Cristian Romero melontarkan pujian tinggi untuk mantan rekan setimnya di Tottenham Hotspur, Micky van de Ven. Bek tengah asal Argentina itu menyebut Van de Ven sebagai pemain “luar biasa” yang memiliki semua atribut yang dibutuhkan seorang bek kelas atas. Pujian tersebut disampaikan Romero dalam wawancara bersama jurnalis Argentina, Gaston Edul, beberapa waktu setelah ia meninggalkan Spurs menuju Atletico Madrid.
Pernyataan ini menarik bukan hanya karena datang dari seorang bek yang diakui kualitasnya, tetapi juga karena Romero dan Van de Ven sempat membentuk salah satu duet pertahanan paling menjanjikan di Premier League. Keduanya menghabiskan tiga musim bersama di London utara sebelum Romero melanjutkan karier di Spanyol pada bursa transfer musim panas. Bagi Tottenham, komentar tersebut menjadi semacam validasi atas kualitas bek muda Belanda yang kini menjadi salah satu pilar utama tim.

Romero Sebut Micky van de Ven Punya Semua yang Dibutuhkan
Dalam wawancara itu, Romero menempatkan pengalaman bermain bersama Van de Ven sebagai salah satu hal paling berkesan selama membela Tottenham. Ia menilai kerja sama keduanya di jantung pertahanan berjalan di atas ekspektasi, terutama mengingat usia Van de Ven yang masih muda saat baru bergabung. Romero bahkan menyebut mantan rekannya itu sebagai sosok yang membuatnya tampil lebih baik.
“Di level klub, di Tottenham, saya banyak berbagi momen dengan Micky van de Ven, dan menurut saya itu luar biasa,” kata Romero seperti dikutip dari wawancaranya. “Dia pemain yang luar biasa, dan dia punya segalanya.”
Romero kemudian merinci atribut yang membuat Van de Ven istimewa di matanya. Menurutnya, bek berusia muda itu tidak hanya cepat, tetapi juga nyaman mengolah bola, agresif dalam bertahan tinggi, serta punya kemampuan teknis di atas rata-rata untuk ukuran seorang bek tengah. Kombinasi kecepatan dan kualitas teknis semacam ini memang tidak dimiliki banyak bek di Eropa.
Ada satu kalimat yang paling menonjol dari Romero, yakni pengakuannya bahwa Van de Ven turut “mengangkat” permainannya sejak hari pertama mereka bekerja sama. Ia menegaskan bahwa hubungan personal keduanya juga sangat baik, hal yang sering menjadi fondasi penting bagi solidnya sebuah duet pertahanan.
Statistik Membuktikan Duet Ini Bukan Sekadar Klaim
Pujian Romero bukan sekadar basa-basi. Data pertandingan menunjukkan bahwa Tottenham tampil lebih baik ketika Romero dan Van de Ven bermain bersama sejak menit pertama. Dari 73 laga yang keduanya awali sebagai starter, Spurs memenangi 34 di antaranya atau setara 46,6 persen, dengan 14 hasil imbang dan 25 kekalahan.
Angka itu turun cukup signifikan ketika salah satu dari keduanya absen. Dalam 80 pertandingan tanpa kehadiran lengkap duet tersebut, tingkat kemenangan Tottenham menyusut menjadi 37,5 persen, yaitu 30 kemenangan, 15 imbang, dan 35 kekalahan. Selisih hampir sepuluh poin persentase ini memberi gambaran betapa pentingnya keberadaan keduanya bagi struktur pertahanan tim.
Dampaknya juga terlihat pada produktivitas gol. Saat Romero dan Van de Ven sama-sama menjadi starter, Spurs mencetak rata-rata 1,8 gol per laga dan kebobolan 1,4 gol. Ketika duet itu tidak lengkap, rata-rata gol tim turun menjadi 1,6 per pertandingan sementara jumlah gol yang kemasukan justru naik menjadi 1,6. Konstribusi mereka tidak hanya soal bertahan, tetapi juga bagaimana tim bisa membangun serangan dari belakang dengan lebih tenang.
- 73 laga dengan Romero dan Van de Ven sebagai starter: 34 menang, 14 imbang, 25 kalah (46,6 persen kemenangan).
- 80 laga tanpa keduanya lengkap: 30 menang, 15 imbang, 35 kalah (37,5 persen kemenangan).
- Rata-rata gol 1,8 per laga saat duet lengkap, turun menjadi 1,6 saat salah satu absen.
- Rata-rata kebobolan 1,4 per laga saat duet lengkap, naik menjadi 1,6 saat salah satu absen.
Puncak Kemitraan: Final Liga Europa 2024-25
Momen paling berkesan dari kerja sama keduanya terjadi di final Liga Europa musim 2024-25. Tottenham mengalahkan Manchester United 1-0 dalam laga puncak tersebut, sekaligus mengakhiri puasa trofi klub selama 17 tahun. Kemenangan itu menjadi salah satu pencapaian terbesar Spurs dalam dua dekade terakhir.
Pada laga itu, Van de Ven menjadi penyelamat lewat penyelamatan akrobatik di garis gawang yang menggagalkan peluang emas Manchester United. Aksi tersebut menjadi simbol kontribusi pertahanan yang sering luput dari sorotan, tetapi justru menentukan hasil akhir sebuah turnamen. Bagi Romero, momen itu tampaknya menjadi pembenaran atas semua pujian yang ia lontarkan.
Menariknya, akhir masa kerja sama keduanya di Tottenham berjalan jauh dari ideal. Spurs harus berjuang keras menghindari degradasi pada musim berikutnya, sebuah kontras tajam dengan pencapaian trofi Eropa beberapa bulan sebelumnya. Romero pun memilih meninggalkan klub, sementara Van de Ven bertahan dan kini menjadi bagian dari generasi baru yang diharapkan membawa Tottenham kembali bersaing di papan atas.
Apa Arti Pujian Ini bagi Van de Ven dan Tottenham
Bagi Van de Ven, pengakuan dari seorang bek sekaliber Romero punya nilai lebih dari sekadar sanjungan. Romero adalah bek yang dikenal agresif, berpengalaman di level internasional, dan sempat menjadi pemimpin di lini belakang Spurs. Ketika pemain seperti itu menyebut seorang bek muda “punya segalanya”, pesan yang tersirat adalah bahwa Van de Ven sudah berada di jalur yang tepat untuk menjadi salah satu bek terbaik di kompetisi.
Romero sendiri menegaskan bahwa masa depan Van de Ven sepenuhnya bergantung pada sang pemain. Ia menyebut usia muda sebagai faktor penting, karena keputusan soal arah karier, klub, dan target pribadi ada di tangan Van de Ven. Pernyataan ini terasa seperti nasihat halus dari senior kepada junior: talenta sudah lengkap, tinggal bagaimana mengelolanya.
Untuk Tottenham, situasi ini menghadirkan tantangan tersendiri. Kehilangan Romero berarti Spurs harus mencari partner baru bagi Van de Ven tanpa kehilangan kualitas di lini belakang. Di sisi lain, kepercayaan diri Van de Ven yang tumbuh dari pengakuan mantan rekannya bisa menjadi modal penting, terutama jika ia diposisikan sebagai pemimpin baru di area pertahanan.
Konteks Lebih Luas: Tren Bek Modern yang Serba Bisa
Pujian Romero sebenarnya mencerminkan tren yang lebih besar dalam sepak bola Eropa belakangan ini. Klub-klub papan atas semakin mencari bek tengah yang tidak hanya kuat dalam duel dan membaca permainan, tetapi juga cepat, nyaman dengan bola, dan mampu bertahan di area yang tinggi. Profil semacam ini memungkinkan tim bermain dengan garis pertahanan lebih maju dan menekan lawan sejak dari area sendiri.
Van de Ven masuk dalam kategori tersebut. Kecepatannya memungkinkan Tottenham bermain dengan blok tinggi tanpa terlalu takut kebobolan lewat serangan balik, sementara kemampuan teknisnya membuat ia bisa terlibat dalam build-up. Kombinasi itu pula yang membuat duetnya dengan Romero terasa seimbang: satu bek lebih agresif dan dominan dalam duel, satu lagi mengandalkan kecepatan dan ketenangan.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada bagaimana Van de Ven berkembang tanpa Romero di sisinya. Jika ia mampu mempertahankan performa dan bahkan meningkatkan perannya sebagai pemimpin di lini belakang, prediksi Romero soal bek yang “punya segalanya” bukan tidak mungkin terbukti sepenuhnya. Sebaliknya, Tottenham juga dituntut bergerak cepat mencari pengganti yang tepat agar kualitas pertahanan tidak menurun.
Kesimpulan
Pujian Cristian Romero terhadap Micky van de Ven bukan sekadar komentar sopan dari mantan rekan setim. Statistik menunjukkan bahwa Tottenham memang tampil lebih solid ketika keduanya bermain bersama, baik dari segi kemenangan, produktivitas gol, maupun jumlah gol yang kebobolan. Puncaknya adalah final Liga Europa 2024-25, ketika penyelamatan Van de Ven di garis gawang membantu Spurs mengakhiri penantian trofi selama 17 tahun.
Yang tersisa sekarang adalah pertanyaan tentang kelanjutan karier keduanya di jalur yang berbeda. Romero sudah memulai babak baru di Atletico Madrid, sementara Van de Ven masih di Tottenham dengan label sebagai salah satu bek muda paling menjanjikan. Jika ia terus berkembang seperti yang diyakini Romero, bukan mustahil suatu hari nanti predikat “punya segalanya” itu akan diakui jauh lebih luas di pentas sepak bola Eropa.