FIFA President Gianni Infantino holds a football next to the FIFA World Cup trophy as he attends the 56th annual World Economic Forum (WEF) meeting in Davos, Switzerland, January 22, 2026. REUTERS/Denis Balibouse

Persiapan Maroko Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2030: Biaya, Infrastruktur, dan Warisan

Petualangan Maroko di Piala Dunia 2022 mungkin berakhir setelah dikalahkan Prancis di perempat final. Namun, bagi para pejabat Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF), tidak ada waktu untuk beristirahat. Pasalnya, fokus utama kini beralih ke persiapan Piala Dunia 2030 yang akan menjadi turnamen sepak bola terbesar di dunia—dan untuk pertama kalinya dalam seabad, ajang ini akan digelar di tiga benua sekaligus.

Turnamen Piala Dunia 2030 Maroko akan menjadi edisi keseratus. Maroko akan menjadi tuan rumah bersama Spanyol dan Portugal. Ini merupakan Piala Dunia kedua yang digelar di benua Afrika setelah Afrika Selatan pada 2010. Dengan tenggat waktu kurang dari 1.400 hari, berbagai persiapan besar-besaran sudah mulai dilakukan.

Piala Dunia 2030

Anggaran Raksasa untuk Sepak Bola dan Infrastruktur

Maroko mengalokasikan dana langsung untuk sepak bola sebesar 50 hingga 60 miliar dirham (sekitar £4 miliar hingga £4,8 miliar). Selain itu, total belanja infrastruktur yang dilaporkan mencapai £17 miliar. Dana ini digunakan untuk membangun stadion, bandara, rel kereta api, dan proyek urban lainnya. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan percepatan belanja antara 2024 hingga 2030 setara dengan 11,9% dari PDB Maroko pada 2024.

Skala investasi ini memang raksasa. Namun, pihak federasi menegaskan bahwa persiapan Piala Dunia 2030 Maroko bukan hanya soal stadion, melainkan tentang pembangunan jangka panjang yang akan bermanfaat bagi generasi mendatang. Seorang pejabat tinggi yang tidak disebutkan namanya menyatakan, “Piala Dunia bagi Maroko melampaui sepak bola; ini tentang mengembangkan infrastruktur yang berguna untuk masa depan negara.”

Dua stadion utama di Rabat dan Tangier dinyatakan 100% siap. Ini menjadi modal awal yang penting, mengingat pengalaman kegagalan Maroko dalam empat upaya sebelumnya untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia—tahun 1994, 2006, 2010, dan 2026. Raja Mohammed VI kini melanjutkan mimpi yang dimulai oleh ayahnya, Raja Hassan II.

Dukungan Publik dan Ambivalensi Sosial

Bagi banyak warga Maroko, menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030 adalah proyek nasional yang mempersatukan. Jurnalis Amine El Amri, yang masih mengingat kegagalan demi kegagalan, mengatakan, “Menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah proyek yang melibatkan setiap warga Maroko dalam mimpi bersama. Ini hadir dengan biaya, tetapi juga dorongan besar bagi infrastruktur masyarakat yang sangat muda dan dinamis.”

Akan tetapi, tidak semua suara setuju. Abderrahim Bourkia, sosiolog olahraga dari Institut Ilmu Olahraga di Settat, mengakui ada pihak yang mempertanyakan urgensi investasi sebesar itu. “Sebagian kalangan politik bertanya apakah dana tersebut sebaiknya diarahkan ke pendidikan, kesehatan, atau lapangan kerja. Latar belakang sosial dan pendidikan membentuk persepsi. Publik masih ambivalen, mencerminkan perbedaan pandangan,” katanya.

Pemerintah Maroko memang tengah membangun infrastruktur transportasi, digital, dan perkotaan secara besar-besaran. Lebih dari sekadar fisik, negara ini juga memperkuat kapasitas kelembagaan untuk menyelenggarakan megaevent dan meningkatkan tata kelola.

Pelajaran dari Afrika Selatan: Hindari Beban Jangka Panjang

Maroko disarankan mengambil pelajaran dari Afrika Selatan yang sukses menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010. Dennis Mumble, mantan CEO Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan yang duduk di komite penyelenggara lokal 2010, mengingatkan bahwa “keberhasilan sejati terletak pada perencanaan warisan, mendorong persatuan nasional, dan memastikan infrastruktur tidak menjadi beban di masa depan.”

Menurut Mumble, beberapa stadion di Afrika Selatan bisa menjadi beban fiskal jika tidak dimanfaatkan secara optimal. “Saya tidak mengatakan kami membangun proyek mercusuar, tapi kami mungkin belum pandai memposisikan venue sebagai tempat serbaguna—untuk konser internasional, olahraga multi, pertemuan keagamaan, dan politik.”

Ia juga memperingatkan soal pembengkakan biaya. “Ada pembengkakan biaya signifikan pada pembangunan stadion karena kontraktor tahu dana pemerintah disetujui agak terlambat. Akibatnya, penetapan harga predator—kontraktor menerapkan tarif tinggi karena kami tidak punya pilihan lain. Belakangan mereka dituntut dan dihukum denda besar. Perencanaan sampai detail terkecil menjadi segalanya bagi kami.”

Warisan untuk Afrika: Lebih dari Sekadar Slogan

Maroko membingkai perannya sebagai tuan rumah Piala Dunia 2030 dengan warna Afrika. Namun, banyak negara di Afrika, terutama Sub-Sahara, menantikan apakah warisan nyata akan terwujud, bukan hanya slogan PR.

Selama dekade terakhir, FRMF telah menandatangani perjanjian kerja sama bilateral dengan mayoritas federasi sepak bola di benua itu. Hampir separuh negara Afrika kekurangan lapangan internasional berkualitas, sehingga terpaksa bermain di luar negeri. Pejabat Maroko mengatakan kemitraan dengan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) untuk mengatasi masalah ini adalah bagian dari program warisan Piala Dunia 2030 Maroko.

Mumble, berdasarkan pengalamannya, menekankan bahwa manajemen reputasi global akan menjadi tantangan besar bagi Maroko, setara dengan persiapan fisik. Persoalan politik, ekonomi, dan sosial akan lebih tajam disorot media internasional. Hal ini juga dialami Qatar sebagai tuan rumah 2022, yang menghadapi kritik tajam soal kematian pekerja migran dan pelanggaran HAM.

Dengan segala ambisi dan tantangan, persiapan Piala Dunia 2030 Maroko terus berjalan. Apakah negara ini mampu menyeimbangkan biaya, warisan, dan harapan publik? Waktu akan menjawab, namun satu hal pasti: mimpi panjang Maroko untuk menjadi pusat panggung sepak bola dunia akhirnya terwujud.