Peluang juara Hearts akan diuji secara terbuka di Celtic Park pada laga lanjutan Liga Skotlandia, Minggu sore waktu setempat. Tim asuhan Wouter Vrancken datang ke Glasgow dengan modal kepercayaan diri yang sedang menanjak, tetapi juga dengan bayangan luka yang belum lama mengering di stadion yang sama.
Duel ini jadi sorotan karena dua alasan sekaligus: Hearts sedang berada dalam fase terbaiknya sejak Vrancken masuk, sementara Celtic tengah berjuang meyakinkan pendukungnya sendiri setelah kekalahan memalukan di kompetisi Eropa. Di tengah situasi itu, investor berpengaruh Hearts, Tony Bloom, baru saja menegaskan kembali ambisinya melihat Tynecastle Club bersaing di papan atas. Laga Minggu akan menjadi indikator pertama apakah ambisi tersebut realistis musim ini.

Modal Hearts: Lima Kemenangan dan Rekor Tandang yang Masih Rapuh
Gelombang kepercayaan diri Hearts datang dari hasil 5-0 atas St Mirren akhir pekan lalu. Kemenangan itu melengkapi catatan lima kemenangan dan satu hasil imbang dalam tujuh pertandingan terakhir di bawah Vrancken, sebuah pembalikan cepat setelah masa awal kepelatihannya berjalan cukup berat.
Di Eropa, Hearts juga menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Oisin McEntee, pemain serba bisa yang masih bagian dari skuad musim lalu, membuka skor saat mereka menjalani laga pembuka Conference League melawan Nordsjaelland. Sayangnya, hasil akhirnya tetap terasa menyakitkan karena lawan menyamakan kedudukan menjadi 1-1 di penghujung laga.
Namun ada catatan yang harus diwaspadai. Hearts hanya menang dua kali dari 11 pertandingan tandang terakhir di liga dan tidak sekali pun mencatatkan clean sheet dalam rentang tersebut. Artinya, meski performa secara umum membaik, perjalanan ke markas tim kuat masih menjadi titik lemah yang belum benar-benar terpecahkan.
Sebelas Menit yang Meruntuhkan Mimpi di Celtic Park
Kunjungan terakhir Hearts ke Parkhead berakhir dengan cara yang sulit dilupakan. Mimpi juara mereka mati dalam rentang 11 menit yang menghancurkan, dan para pemain harus keluar dari Celtic Park yang kacau dalam keadaan masih mengenakan jersey serta sepatu bot, langsung digiring ke bus tim.
Delapan ratus pendukung Jambos yang hadir di stadion, ditambah ribuan lainnya di Gorgie, menjalani trauma sepak bola mereka sendiri. Bagi sebagian dari mereka, membayangkan kembali ke kandang juara Premiership Skotlandia itu tentu terasa menakutkan.
Meski begitu, modal historis Hearts ke laga ini tidak bisa diabaikan. Musim lalu mereka mengumpulkan tujuh poin dari empat pertemuan liga melawan Celtic, jumlah terbanyak yang diraih klub non-Old Firm dalam satu musim sejak 1999-2000. Catatan itu menunjukkan bahwa jarak antara Hearts dan Celtic tidak lagi selebar yang dibayangkan banyak orang.
Pesan Vrancken: Jangan Hidup di Masa Lalu
Vrancken menolak menjadikan luka Mei sebagai bahan bakar utama timnya. Pelatih asal Belgia itu menegaskan bahwa para pemainnya harus berkonsentrasi penuh pada pertandingan Minggu, bukan pada apa yang terjadi musim lalu.
“Saya yakin para pemain akan fokus pada pertandingan hari Minggu dan bukan pada masa lalu,” ujarnya. “Anda tidak bisa hidup di masa lalu. Anda harus bergerak maju dan melihat ke depan, lalu menghadapi laga berikutnya.”
Ia juga menekankan pentingnya energi positif. Menurutnya, terlalu sering menengok ke belakang hanya memunculkan energi negatif, sementara timnya butuh dorongan yang positif. “Saya berharap api itu menyala di setiap pertandingan yang kami mainkan, bukan hanya karena sesuatu terjadi di masa lalu,” tambahnya. “Api ini harus tetap membara setiap kali bermain, terutama di laga-laga besar.”
Senada dengan sang pelatih, McEntee menegaskan bahwa perjalanan ke Glasgow kali ini bukan misi balas dendam. Ia memilih melihatnya sebagai kesempatan biasa untuk meraih hasil bagus, bukan sebagai ajang pembalasan atas kekecewaan musim sebelumnya.
Celtic: Menang di Liga, Tapi Sedang Bergolak
Di sisi lain, tuan rumah justru sedang tidak tenang. Kamis lalu di Lisbon, Celtic tumbang 1-4 dari Benfica pada ajang Europa League, kekalahan keempat mereka dalam lima pertandingan terakhir di semua kompetisi. Martin O’Neill, pelatih berusia 74 tahun yang menangani tim, tetap memilih menyoroti respons para pemainnya ketimbang skornya.
Penampilan Celtic memang membaik di babak kedua. Mereka mencetak satu gol dan berpeluang menambah lebih dari itu, meski di saat bersamaan juga beruntung tidak kebobolan lebih banyak. Namun situasi di luar lapangan tetap menjadi latar: ketegangan antara pendukung dan manajemen klub masih berlangsung, dan para pendukung yang sama mulai gelisah dengan tontonan di lapangan.
Terlepas dari gejolak itu, catatan domestik Celtic tetap menakutkan. Mereka memenangkan 14 dari 15 pertandingan liga terakhir, dengan 11 di antaranya mencetak dua gol atau lebih. Menghadapi Hearts di kandang, Celtic menang 26 kali dari 29 pertemuan liga terakhir, walau kalah dua kali dalam enam laga terakhir melawan tim yang sama.
Keyakinan Tony Bloom dan Penilaian O’Neill
Diskusi soal peluang juara Hearts tidak lepas dari peran Tony Bloom. Awal pekan ini, investor berpengaruh tersebut mengulang keyakinannya bahwa Tynecastle Club bisa bersaing memperebutkan gelar. Pernyataan itu memberi tekanan sekaligus motivasi tambahan bagi skuad Vrancken.
Menariknya, O’Neill sendiri menilai Hearts sebagai penantang serius. Ia memperkirakan laga Minggu akan sama sulitnya dengan pertandingan penentu gelar pada hari terakhir musim lalu. “Saya tahu mereka sudah kalah dua kali di liga, tapi secara keseluruhan, ya, saya pikir mereka bisa menantang,” katanya.
Pujian dari pelatih lawan semacam ini bukan hal kecil. Ia menunjukkan bahwa performa Hearts musim ini sudah dihitung oleh tim-tim besar, bukan lagi dipandang sebagai kejutan sesaat. Bagi Vrancken, ini adalah peluang untuk membuktikan bahwa timnya memang layak diperhitungkan, bukan hanya dianggap ancaman sementara.
Bagi Celtic, laga ini juga punya arti tersendiri. Kemenangan akan meredam kegelisahan pendukung dan menutup luka dari Lisbon, sementara kekalahan berpotensi memperbesar tekanan pada manajemen dan staf pelatih.
Kesimpulan
Laga di Celtic Park Minggu nanti bukan sekadar pertandingan liga biasa. Hearts datang dengan momentum lima kemenangan dalam tujuh laga terakhir, tetapi harus menghadapi rekor tandang yang buruk dan trauma 11 menit yang masih tersisa di stadion tersebut. Celtic, di sisi lain, tetap superior di kompetisi domestik meski sedang dilanda ketegangan internal dan hasil buruk di Eropa.
Jika Hearts mampu pulang dengan poin, klaim Tony Bloom tentang ambisi juara akan mulai terdengar masuk akal. Sebaliknya, kekalahan akan mengingatkan bahwa perjalanan menuju papan atas masih panjang. Apa pun hasilnya, pertandingan ini akan menjadi tolok ukur seberapa jauh Hearts benar-benar berkembang di bawah Vrancken.