Kylian Mbappé dan Transformasi Peran Kepemimpinan di Timnas Prancis
Kylian Mbappé kini menjadi sorotan tidak hanya karena kemampuannya mencetak gol, tetapi juga karena peran kepemimpinannya yang semakin matang di skuad Prancis. Dalam perjalanan Les Bleus menuju semifinal Piala Dunia 2026, pemain berusia 27 tahun itu menunjukkan bahwa ia telah berhasil mengemban tanggung jawab sebagai kapten tim nasional. Keputusan kontroversial pelatih Didier Deschamps pada 2023 lalu—memberikan ban kapten kepada Mbappé alih-alih Antoine Griezmann—kini terbukti tepat.
Antoine Griezmann dan Kontroversi Ban Kapten
Saat Prancis mengalahkan Maroko di perempat final Piala Dunia 2022, Antoine Griezmann menjadi motor serangan. Namun di Piala Dunia kali ini, pemain yang baru saja bergabung dengan Orlando City itu hanya menjadi penonton di tribun. Griezmann pensiun dari tim nasional pada 2024 setelah sempat menjadi wakil kapten.
Setelah Hugo Lloris mengundurkan diri usai Piala Dunia Qatar, banyak pihak menduga ban kapten akan jatuh ke tangan Griezmann. Namun Deschamps memilih Mbappé, yang saat itu baru berusia 24 tahun. Keputusan itu memicu perdebatan nasional; Griezmann sendiri mengaku kecewa karena diabaikan setelah hampir satu dekade membela Prancis.

Mbappé Membuktikan Diri sebagai Pemimpin
Tiga tahun kemudian, kritik perlahan meredup. Mbappé memimpin Prancis ke semifinal Piala Dunia ketiga berturut-turut setelah mencetak gol kedelapan turnamen dalam kemenangan 2-0 atas Maroko. Pemain Real Madrid itu kini tidak hanya menjadi ujung tombak serangan, tetapi juga pemandu bagi pemain muda di skuad.
Salah satu tema utama perjalanan Mbappé di Piala Dunia ini adalah senioritasnya. Ia menjadi salah satu dari dua pemain di skuad tahun ini yang pernah tampil di dua edisi sebelumnya, bersama Ousmane Dembélé. Sementara itu, N’Golo Kanté dan Lucas Hernandez—juga juara dunia 2018—harus absen di Qatar karena cedera.
Sikap Rendah Hati di Tengah Sorotan
Dalam berbagai wawancara, Mbappé kerap menekankan pentingnya pengalaman yang ia kumpulkan dari dua turnamen sebelumnya. Ketika perjalanan Prancis di Amerika Serikat mulai dibandingkan dengan tim-tim legendaris, Mbappé justru meredam euforia. “Saya pernah menjadi juara dunia dan runner-up. Tim ini belum menjadi yang terbaik, tapi mungkin yang paling potensial,” ujarnya usai laga melawan Maroko.
Ia mengingat bagaimana Prancis tersingkir di Euro 2020 meskipun memiliki lini serang yang disebut media sebagai “iri setiap negara”. “Kami sadar potensi tim ini, tapi itu tidak cukup untuk memenangkan pertandingan. Kami percaya diri, tapi harus membuktikan diri sebelum disebut tak terkalahkan,” tambah Mbappé.
Dukungan Publik dan Bimbingan untuk Pemain Muda
Citra Mbappé mungkin sempat tercoreng akibat kepergian kontroversialnya dari Paris Saint-Germain, namun ketika mengenakan seragam Prancis, dukungan penggemar tak pernah pudar. Kemampuannya menghadapi pertahanan lawan, sorotan media, dan tugas kepemimpinan hanya semakin membenarkan keputusan Deschamps.
Salah satu bentuk bimbingan Mbappé adalah dengan mengingatkan rekan setimnya untuk menghormati Piala Dunia sebagai ajang terbesar dalam sepak bola. “Tidak ada yang lebih besar dari Piala Dunia. Kami sadar dan mencoba menyampaikannya kepada pemain muda,” katanya. Dengan 20 gol dalam 20 pertandingan Piala Dunia, tak ada yang lebih berhak menekankan hal itu selain Mbappé.
Tekanan dan Sejarah Timnas Prancis
“Negara ini memiliki sejarah di Piala Dunia. Mereka harus tahu dan sadar akan tekanan yang datang saat membela Prancis,” ujar Mbappé penuh wibawa. Les Bleus tidak goyah meskipun status favorit turnamen semakin kuat. Menjelang semifinal di Dallas, Mbappé berusaha memastikan rekan-rekannya tetap tenang dan fokus agar potensi besar tim ini bisa terwujud.
Perjalanan Kylian Mbappé sebagai kapten Prancis membuktikan bahwa pemimpin tak selalu lahir dari senioritas semata, melainkan dari kedewasaan, sikap rendah hati, dan kemampuan membawa tim melewati tekanan. Dengan kombinasi gol dan kepemimpinan, ia kini menjadi ikon baru sepak bola Prancis.