Harga tiket tandang SPFL kembali menjadi perdebatan panas di kalangan suporter sepak bola Skotlandia. Seorang pendukung Kilmarnock dewasa yang hendak menyaksikan timnya bertandang ke Ibrox pada Sabtu harus merogoh kocek £34, sedangkan fans Hibernian yang ingin hadir di laga debut manajer baru mereka di Tannadice diminta membayar £30. Pendukung Dundee yang menyambangi Falkirk dan penggemar St Mirren di Tynecastle pun menghadapi angka serupa, yakni £28 per tiket.
Angka-angka itu belum termasuk biaya perjalanan, makan, dan pengeluaran lain yang tak terpisahkan dari satu hari menonton sepak bola. Di divisi yang lebih bawah, tarif memang menurun, tetapi tidak serta-merta murah: fans Morton masih bisa membayar £24 saat berkunjung ke Arbroath di Championship, pendukung Hamilton £21 di kandang Alloa pada League 1, dan penggemar Kelty Hearts £18 di Stirling Albion pada League 2. Pertanyaan besarnya pun muncul, seberapa mahal sebenarnya tiket yang masih wajar? SPFL selama ini gencar menyoroti bahwa divisi teratas Skotlandia adalah yang paling banyak ditonton di Eropa bila dihitung per jumlah penduduk, namun kenaikan biaya menonton berpotensi menggerus status tersebut.

Berapa Harga Tiket Tandang di Tiap Klub SPFL?
Untuk menjawab pertanyaan itu, seluruh 42 klub SPFL diminta membeberkan tarif yang mereka bebankan kepada suporter tamu. Dari data yang terkumpul, harga tiket dewasa di dalam satu divisi cenderung tidak jauh berbeda antarklub. Artinya, jarak harga antara laga termahal dan termurah lebih banyak ditentukan oleh faktor lain, bukan semata nama klubnya.
Rentang harga di setiap stadion dipengaruhi oleh sejumlah hal, mulai dari siapa lawan yang datang, di bagian mana kursi berada, hingga apakah tiket dibeli lebih awal atau di hari pertandingan. Karena itu, satu klub bisa menawarkan beberapa angka berbeda sepanjang musim, bergantung pada konteks pertandingannya. Variasi yang jauh lebih besar justru muncul pada harga tiket konsesi, di mana banyak klub menggratiskan anak yang hadir bersama orang dewasa yang membayar penuh, atau menawarkan paket lain yang lebih ramah kantong.
Perlu dicatat, gambaran harga paling mahal dan paling murah di setiap stadion tidak mencerminkan promosi tersebut, melainkan kisaran tarif untuk tiket yang dibeli secara individu. Bagi sebagian keluarga, skema konsesi inilah yang menentukan apakah perjalanan tandang masih mungkin dilakukan atau tidak. Namun bagi suporter dewasa yang datang sendirian, angka di loket itulah yang harus ditanggung, dan itulah yang paling terasa memberatkan.
Apa Kata Para Suporter soal Harga Tiket Tandang?
Keluhan mengenai biaya menonton datang dari pendukung berbagai klub, dengan nada yang beragam, mulai dari sekadar mengeluh hingga menuntut perubahan nyata. Sebagian menilai harga sudah melewati batas kewajaran, sebagian lain mengakui memahami kebutuhan finansial klub tetapi tetap khawatir dampaknya terhadap budaya tandang. Berikut sebagian suara mereka.
- Glen Schreuder (Aberdeen): Ia ingin ada batas harga tiket tandang, karena salah satu alasan ia kini jarang melakukan perjalanan tandang adalah biaya yang kian tak terjangkau, bukan hanya harga tiket, tetapi juga harga-harga secara umum.
- Paddy Loughran (Celtic): Menurutnya, suporter semestinya bersatu untuk menyampaikan argumen ini kepada liga dan memastikan tuntutan pertanggungjawaban diarahkan kepada pihak yang tepat.
- Ethan Hampton (Dundee): Ia menyukai budaya “hari tandang” dalam sepak bola Inggris dan ingin budaya itu tetap terjaga, tetapi mempertanyakan seberapa banyak lagi yang bisa diminta dari suporter yang menguras kantong demi mengikuti tim. Menurutnya, klub Inggris mungkin mampu menanggung harga tiket, tetapi Skotlandia tidak berada di posisi yang sama.
- Paul McNicoll (Dundee United): Ia menyebut biaya tiket tandang nyaris memalukan karena sebagian venue jauh lebih mahal daripada yang lain, dan meski harga standar akan bagus, rasanya masih sangat jauh dari terwujud.
- Grant Heaney (Falkirk): Ia menilai harga tiket tandang berlebihan dan batas harga perlu diperkenalkan, sembari mengakui bahwa ia bisa memahami kedua sisi persoalan karena semua harga naik dan klub pun terdampak.
- Greg Playfair (Hearts): Ia menyoroti sisi rumit dari kebijakan ini. Jika harga tandang dibatasi, suporter kandang berpotensi mempertanyakan mengapa penonton tamu justru membayar lebih murah daripada mereka.
- Matty Fairnie (Hibernian): Ia menilai sebagian klub berusaha menekan harga, tetapi ada pula yang melihat suporter sebagai komoditas untuk diperas. Karena penerimaan tiket menjadi porsi besar pendapatan klub Skotlandia, ia menyebut klub praktis seperti kalkun yang memilih datangnya Natal.
- Sandy Armour (Kilmarnock): Ia mengusulkan batas sekitar £20 dan menyarankan agar enam atau tujuh klub, khususnya yang berbasis di luar kota besar, membuat kesepakatan bersama di antara mereka sendiri.
- Jamie Currie (Rangers): Sebagai suporter yang mengikuti laga kandang dan tandang, ia menilai harga tandang jauh terlalu mahal dibandingkan produk yang ditawarkan, dan seharusnya dibatasi £20, namun ia sadar hal itu bertabrakan dengan kepentingan klub karena tiket adalah sumber pemasukan terbesar.
- Sam Miller (St Johnstone): Ia merasa harga lebih mahal daripada yang seharusnya dibandingkan dengan apa yang didapat penonton, dan menduga suporter tidak memahami kebutuhan finansial klub sehari-hari. Jika hal itu dijelaskan lebih gamblang, ia yakin suporter bisa lebih memahami alasan di balik harga tiket.
- Mark Jardine (St Mirren): Ia paham mengapa harga naik, karena St Mirren sebagian besar mengandalkan uang dari penonton yang datang ke stadion, tetapi khawatir suatu saat hal itu justru membuat orang enggan datang. Ia pun cenderung berpihak pada kampanye Twenty’s Plenty dengan batas £25.
Belajar dari Premier League: Batas Harga £30 yang Bertahan
Banyak suporter di Skotlandia menyerukan batas harga tiket tandang, dan contohnya tidak jauh dari mereka. Liga Premier Inggris telah menerapkan batas £30 selama satu dekade terakhir, dan pada Maret lalu klub-klub di sana memutuskan secara bulat untuk mempertahankannya selama dua musim berikutnya. Kebijakan itu lahir dari kesadaran bahwa harga tiket sudah terlalu tinggi dan bahwa kehadiran suporter tandang dinilai penting bagi atmosfer pertandingan.
Dampaknya terlihat pada data: sejak kebijakan itu diperkenalkan pada 2016, tingkat kehadiran suporter tandang meningkat dari 82 persen menjadi 91 persen. Angka ini menunjukkan bahwa harga yang sedikit lebih rendah tidak otomatis menggerus jumlah penonton, justru sebaliknya. Dengan tribun tamu yang lebih penuh, stadion tampil lebih menarik di siaran televisi dan penjualan makanan serta minuman pun ikut terdongkrak.
Michael Brunskill dari Football Supporters’ Association mengatakan kepada BBC Scotland bahwa awalnya sempat ada keluhan dari suporter klub kandang yang kadang harus membayar lebih mahal. Namun menurutnya, suasana itu cepat berubah. Ia menyebut uang yang hilang dari klub sangat minim, dan alasan Liga Premier mau terlibat adalah karena para eksekutif memahami argumen yang disampaikan suporter. Kesimpulannya, harga yang sedikit lebih murah menghasilkan tribun tandang yang penuh, dan dari situ semuanya saling menguntungkan.
Apakah Batas Harga Tiket Tandang Masuk Agenda SPFL?
Sayangnya, tidak. Batas harga tiket tandang tidak masuk dalam agenda SPFL dan belum dibahas oleh klub-klub dalam waktu dekat ini. Perbandingan dengan Inggris pun cenderung pincang, mengingat klub-klub Skotlandia jauh lebih bergantung pada pendapatan hari pertandingan karena nilai kontrak penyiaran mereka lebih kecil.
Selain itu, meski tekanan biaya hidup masih berlangsung, jumlah penonton di Skotlandia justru terus meningkat. Kondisi ini membuat klub besar kemungkinan enggan menerapkan kebijakan yang, setidaknya pada tahap awal, berpotensi menurunkan pemasukan mereka.
Meski demikian, isu ini sudah menarik perhatian politik. Partai Green Skotlandia menyerukan batas £25 sebelum pemilihan Parlemen Skotlandia pada Mei. Di sisi lain, pihak berwenang bisa berdalih bahwa perlindungan terhadap suporter tandang sebenarnya sudah ada, karena SPFL melarang klub menagih harga lebih mahal kepada penonton tamu dibandingkan penonton kandang untuk kursi yang setara. Sejumlah klub juga menyediakan berbagai konsesi dan penawaran, dan perlu dicatat bahwa suporter tandang masih bisa menonton laga di berbagai level SPFL dengan harga di bawah £25.
Mengapa Isu Ini Penting dan Apa yang Mungkin Terjadi Berikutnya
Di balik perdebatan soal angka, ada persoalan yang lebih mendasar: budaya tandang di sepak bola Britania dibangun di atas kesediaan suporter menempuh perjalanan jauh, dan budaya itu bergantung pada harga yang masih bisa dijangkau. Ketika biaya tiket, transportasi, dan konsumsi naik bersamaan, kelompok yang paling terdampak adalah suporter dengan penghasilan menengah ke bawah, yang perlahan akan memilih tinggal di rumah. Jika tren itu berlanjut, stadion bisa kehilangan salah satu elemen yang membuatnya hidup, dan nilai jual liga di mata penyiar serta sponsor ikut terdampak.
Bagi klub, situasinya benar-benar serba salah. Penerimaan tiket adalah tulang punggung keuangan mereka, sehingga menurunkan harga berarti memangkas pendapatan yang sulit digantikan dari sumber lain. Namun menahan harga di level tinggi berisiko mempercepat penurunan jumlah penonton dalam jangka panjang. Kompromi yang mungkin lebih realistis adalah kesepakatan antar-klub pada level tertentu, seperti yang diusulkan sebagian suporter, meski kesepakatan semacam itu sulit ditegakkan tanpa dukungan liga.
Realitas pahitnya, harga hampir semua hal sedang naik. Karena itu, kampanye untuk membatasi harga tiket tandang kemungkinan baru akan benar-benar mendapat dukungan luas jika suporter mulai berhenti datang ke stadion. Selama tribun masih terisi, dorongan untuk berubah akan tetap lemah.
Jadi, harga tiket tandang SPFL memang bervariasi, mulai dari £18 di League 2 hingga £34 untuk laga tertentu di divisi teratas, dengan konsesi dan promosi yang bisa membuatnya lebih terjangkau bagi sebagian penonton. Seruan akan batas harga terus menguat, dan pengalaman Liga Premier Inggris menunjukkan bahwa kebijakan semacam itu tidak selalu merugikan klub. Namun untuk saat ini, kebijakan tersebut belum masuk agenda resmi SPFL, dan perubahan baru akan terjadi jika tekanan dari tribun, publik, dan politik bertemu pada satu titik yang tidak bisa lagi diabaikan.