Ousmane Dembele menegaskan bahwa dirinya bukanlah sosok yang sejak awal dianggap sebagai “yang terpilih”. Menurutnya, seluruh pencapaian yang ia raih saat ini adalah buah kerja keras, bukan bakat istimewa yang datang begitu saja. Pernyataan itu ia lontarkan ketika sedang membidik gelar Ballon d’Or kedua secara beruntun.
Kompetisi menuju trofi individu paling bergengsi di dunia sepak bola itu tahun ini kembali menempatkan Dembele Ballon d’Or sebagai salah satu kandidat utama. Ia harus bersaing dengan Lamine Yamal dan Kylian Mbappe, yang keduanya secara terbuka menyatakan layak memenangi penghargaan tersebut. Salah satu pernyataan Mbappe bahkan menyinggung langsung label “yang terpilih” yang selama ini melekat pada dirinya.
Statistik Dembele Ballon d’Or 2024-25 yang Berbuah Trofi
Gelar Ballon d’Or pertama Dembele diraih setelah kampanye 2024-25 yang nyaris sempurna. Sepanjang musim itu ia terlibat langsung dalam 46 gol di semua kompetisi. Rinciannya, 33 gol ia cetak sendiri dan 13 lainnya ia ciptakan lewat assist untuk rekan-rekan setimnya.
Kontribusi tersebut menjadi salah satu pilar utama keberhasilan Paris Saint-Germain menyapu tiga gelar sekaligus, yakni Ligue 1, Coupe de France, dan Liga Champions. Artinya, pencapaian Dembele bukan sekadar soal angka pribadi, melainkan berdampak langsung pada prestasi kolektif timnya. Kombinasi inilah yang biasanya paling dihargai oleh para pemilih Ballon d’Or.
Yang menarik, sebagian besar kontribusi itu lahir di paruh kedua musim. Dari total 46 keterlibatan gol, 33 di antaranya datang setelah pertengahan musim, terdiri dari 25 gol dan delapan assist. Lonjakan performa di momen-momen krusial semacam ini kerap menjadi penentu dalam penilaian penghargaan individu, sehingga tidak mengherankan bila nama Dembele akhirnya disebut sebagai yang terbaik pada musim itu.
“Saya Selalu Duduk di Bangku Belakang”
Dalam wawancara dengan Ligue1+, Dembele menggambarkan dirinya sebagai sosok yang tidak pernah menonjol sejak awal. “Saya selalu berada di bangku belakang, bekerja keras,” ujarnya. Ungkapan itu memperlihatkan bagaimana ia memandang perjalanan kariernya selama ini.
Ia juga menegaskan bahwa sepanjang karier ia lebih banyak berbicara lewat aksi di lapangan ketimbang lewat kata-kata. “Sepanjang karier saya, saya tidak mengucapkan sepatah kata pun; saya bekerja luar biasa keras,” lanjutnya. Menurut Dembele, kerja keras itulah yang akhirnya berbuah manis pada musim lalu bersama Paris Saint-Germain.
Soal peluangnya tahun ini, ia memilih bersikap santai. “Dan tahun ini, kita lihat saja bagaimana jadinya; tidak ada tekanan, jalani saja dengan santai,” katanya. Sikap tersebut kontras dengan nada percaya diri yang ditunjukkan sebagian pesaingnya dalam perburuan trofi.
Narasi “Yang Terpilih” dan Perbandingan dengan Mbappe
Salah satu pernyataan yang paling banyak dibicarakan datang dari Kylian Mbappe. Ia disebut mengatakan kepada France Football, “Dembele? Ia selalu dianggap sebagai pemain bertalenta. Saya, di sisi lain, selalu dianggap sebagai yang terpilih.” Kutipan itu seolah menempatkan keduanya pada dua jalur karier yang berbeda.
Perbandingan semacam itu tidak bisa dilepaskan dari cara publik dan media membangun citra kedua pemain sejak mereka muda. Mbappe dikenal sebagai talenta yang diprediksi menjadi bintang besar sejak dini, sementara Dembele lebih sering dikaitkan dengan kerja keras dan konsistensi. Narasi inilah yang kemudian menjadi bahan perdebatan menjelang malam pengumuman pemenang.
Selain Mbappe, Lamine Yamal juga disebut menyatakan bahwa dirinya layak memenangi Ballon d’Or. Artinya, Dembele harus menghadapi persaingan dari dua generasi sekaligus, yakni pemain mapan yang sudah lama berada di puncak dan talenta muda yang sedang naik daun. Situasi ini membuat penilaian tahun ini terasa lebih terbuka dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.
Apa Artinya bagi Persaingan Ballon d’Or 2026
Pernyataan Dembele tentang kerja keras punya implikasi tersendiri dalam persaingan. Dengan menempatkan diri sebagai pekerja keras alih-alih bintang yang ditakdirkan menang, ia membangun narasi yang mudah diterima banyak penggemar. Narasi itu bisa memengaruhi persepsi publik, meski keputusan akhir tetap berada di tangan para pemilih.
Di sisi lain, klaim Mbappe dan Yamal bahwa mereka layak menang menunjukkan bahwa persaingan tahun ini tidak hanya soal angka. Faktor narasi, momen besar, dan gelar kolektif sama-sama diperhitungkan dalam penilaian. Karena itu, prestasi Dembele bersama PSG di level domestik maupun Eropa menjadi modal kuat yang sulit diabaikan.
Bagi PSG sendiri, posisi Dembele sebagai kandidat utama sekaligus mencerminkan keberhasilan proyek klub. Ketika seorang pemainnya bersaing di level tertinggi, citra dan daya tarik klub juga ikut terangkat. Hal ini penting bagi PSG yang terus berupaya memantapkan posisinya sebagai kekuatan utama di sepak bola Eropa.
Fabian Ruiz, Rekan Setim yang Juga Masuk Nominasi
Dembele bukan satu-satunya pemain PSG yang masuk daftar 30 nominasi. Rekan setimnya, Fabian Ruiz, juga ada di sana setelah turut membantu Spanyol menjuarai Piala Dunia. Ia bahkan disebut sebagai satu-satunya pemain yang berhasil meraih gelar Liga Champions dan Piala Dunia pada musim yang sama, sehingga namanya dianggap sebagai kuda hitam.
Fabian menyerahkan sepenuhnya penilaian kepada para pemilih. “Posisi saya di Ballon d’Or adalah keputusan para pemilih,” katanya. “Hal terpenting bagi saya adalah membuat diri selalu siap untuk tim, sekaligus berusaha menjadi bagian dari yang terbaik. Saya cukup beruntung bisa masuk 30 nominasi tahun lalu (peringkat 24) dan saya berharap bisa finis setinggi mungkin tahun ini.”
Ia juga menyebut bahwa berada di antara 30 nama itu merupakan sebuah keistimewaan. “Biarlah mereka memilih siapa yang menurut mereka paling layak,” ujarnya. “Saya sudah sangat bersyukur dan bangga bisa masuk nominasi.” Sikap rendah hati Fabian senada dengan nada yang ditunjukkan Dembele dalam menyikapi persaingan tahun ini.
Perjalanan Ousmane Dembele menuju Ballon d’Or kedua bertumpu pada satu keyakinan sederhana, yaitu kerja keras. Statistik 46 keterlibatan gol serta tiga gelar bersama PSG menjadi bukti nyata bahwa pendekatan tersebut membuahkan hasil. Di saat yang sama, ia menolak menganggap dirinya sebagai bakat yang ditakdirkan menang sejak awal.
Dengan tekanan yang ia pilih untuk tidak dipikul, Dembele melangkah ke malam pengumuman dengan sikap santai. Apakah pendekatan itu cukup untuk mengalahkan klaim Mbappe dan Yamal, hanya waktu yang akan menjawab. Yang jelas, persaingan Ballon d’Or 2026 kali ini tidak hanya soal siapa yang paling bersinar, tetapi juga tentang cara setiap pemain memaknai perjalanan kariernya.
