Kontroversi gol Haaland kembali mencuat setelah penyerang Manchester City itu mencetak gol kemenangan atas Manchester United dalam derby Manchester di Old Trafford. City menang 1-0 lewat gol tersebut, tetapi proses di baliknya jauh dari kata mulus karena gol itu sempat dianulir offside di lapangan sebelum VAR membatalkan keputusan hakim garis.
Badan wasit profesional Pro Ref akhirnya mengakui adanya “error of judgement” atau kesalahan penilaian dalam mengesahkan gol tersebut. Meski begitu, pernyataan resmi mereka hanya menjelaskan sebagian kecil dari persoalan, sehingga sejumlah pertanyaan penting soal alur pengambilan keputusan VAR masih menggantung hingga sekarang.
Kronologi Gol Kontroversial Haaland di Old Trafford
Gol itu lahir pada menit ke-59 dan 24 detik. Keputusan awal di lapangan adalah offside, dan gol dianulir karena dinilai Erling Haaland berada dalam posisi terlarang. Namun, tim VAR kemudian meninjau ulang momen tersebut dan berkesimpulan bahwa Haaland sebenarnya berada dalam posisi onside karena dijaga oleh bek Manchester United, Patrick Dorgu.
Persoalannya tidak berhenti di situ. Dalam proses peninjauan, VAR menemukan fakta bahwa gelandang Manchester City, Enzo Fernandez, berada dalam posisi offside saat ia berupaya memainkan bola sebelum bola mencapai Haaland. Artinya, ada dua pemain yang perlu dievaluasi posisinya dalam satu rangkaian serangan yang sama.
VAR kemudian menilai bahwa Fernandez tidak memainkan bola, sehingga gol tetap disahkan. Keputusan inilah yang menjadi akar kontroversi, karena hasil akhirnya bertentangan dengan pengakuan Pro Ref bahwa gol tersebut semestinya tetap dianulir.
Pengakuan Pro Ref yang Baru Menjawab Separuh Persoalan
Pro Ref — badan wasit profesional yang sebelumnya dikenal sebagai PGMOL atau PGMO — mengonfirmasi pada Minggu malam bahwa telah terjadi kesalahan saat gol kemenangan City disahkan. Pengakuan itu disampaikan secara terbuka, tetapi isinya tidak sepenuhnya menjelaskan mengapa kesalahan tersebut bisa terjadi.
Setelah mengakui bahwa gol seharusnya tetap dianulir karena Fernandez berada dalam posisi offside, pernyataan mereka menyebut bahwa pada kesempatan itu VAR tidak mengenali dampak yang mungkin timbul dari posisi Fernandez. Kalimat itu menegaskan adanya kelalaian, namun tidak menguraikan bagaimana kelalaian tersebut bisa lolos dari proses peninjauan.
Pertanyaan besarnya justru belum tersentuh. Mengapa VAR gagal menyadari bahwa seorang pemain yang berada sekitar enam yard dari gawang dan melakukan gerakan menyundul bola di antara dua pemain lawan tidak dinilai memengaruhi permainan, atau setidaknya berpotensi memengaruhi permainan? Sampai sekarang, alasan di balik kegagalan penilaian itu belum dijelaskan secara terbuka.
Dugaan Penyebab: VAR Terlalu Fokus pada Sentuhan Bola
Penjelasan yang paling masuk akal saat ini adalah bahwa tim VAR terlalu terpaku pada satu detail teknis, yaitu apakah Fernandez benar-benar menyentuh bola atau tidak. Dalam penjelasan yang diunggah Match Centre di platform X saat pertandingan berlangsung, disebutkan bahwa VAR menilai Fernandez tidak memainkan bola meskipun ia berada dalam posisi offside.
Selama liputan pertandingan, tayangan ulang juga memperlihatkan tim VAR seolah sedang meneliti dengan saksama apakah Fernandez menyentuh bola ketika bola melintas di depan gawang. Fokus pada satu aspek ini kemudian dianggap sebagai sumber kekeliruan, karena aturan offside sebenarnya tidak menuntut pemain harus menyentuh bola terlebih dahulu.
Aturan offside dengan jelas menyatakan bahwa seorang pemain bisa dinyatakan offside terlepas dari apakah ia menyentuh bola atau tidak. Jadi, ketika VAR menghabiskan waktu untuk memastikan ada atau tidaknya sentuhan, mereka justru mengabaikan inti persoalan yang seharusnya menentukan hasil akhir keputusan.
Mengapa Gol Seharusnya Diserahkan ke On-Field Review
Menurut penjelasan Pro Ref, keputusan offside awal sebenarnya dijatuhkan kepada Erling Haaland, dan pemain itu memang berada dalam posisi onside. Dari titik itu, peninjauan beralih kepada Fernandez, yang oleh tim VAR secara tepat dinilai berada dalam posisi offside.
Masalahnya muncul setelahnya. Tim VAR tampaknya hanya berfokus pada apakah Fernandez menyentuh bola, padahal itu bukan satu-satunya pertimbangan yang relevan. Mereka tidak bisa mengonfirmasi bahwa gol sudah layak dianulir, karena alasan yang tersedia di lapangan adalah offside Haaland, bukan offside Fernandez.
Karena itu, Pro Ref menilai VAR seharusnya meminta wasit Michael Oliver melakukan on-field review. Dalam proses itu, Oliver akan diminta mengambil keputusan subjektif mengenai apakah posisi Fernandez memengaruhi jalannya permainan. Tanpa langkah tersebut, proses peninjauan dianggap tidak dijalankan sesuai prosedur yang berlaku.
Dampak Terhadap Lammens dan Martinez
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kiper Manchester United, Lammens, juga terpengaruh oleh keberadaan Fernandez. Tayangan ulang gol Haaland memperlihatkan bahwa sang kiper memberikan reaksi awal terhadap Fernandez dengan mengangkat kedua tangan sebagai antisipasi terhadap sundulan, dan hal itu membuat posisinya kurang seimbang ketika Haaland melepaskan tembakan.
Namun, dampak terhadap Lammens bukan satu-satunya pertimbangan. Martinez disebut sudah lebih dulu terpengaruh oleh posisi Fernandez, sehingga gol tersebut seharusnya tetap dianulir terlepas dari apakah Lammens terganggu oleh upaya Fernandez memainkan bola atau tidak.
Dari sini muncul kesimpulan yang terkesan ambigu: keputusan di lapangan bisa disebut salah sekaligus benar. Disebut salah karena offside dijatuhkan kepada pemain yang sebenarnya onside, tetapi bisa disebut benar dari sisi hasil akhir karena gol itu memang seharusnya dianulir karena offside.
Siapa VAR dalam Laga Ini dan Teknologi yang Dipakai
VAR yang bertugas pada laga Minggu itu adalah Matt Donohue. Ia tercatat baru empat kali memimpin pertandingan Premier League sebagai wasit, tetapi pengalamannya sebagai VAR tergolong mumpuni. Pada musim 2025/26, ia bertugas sebagai VAR dalam 24 laga Premier League dan enam laga sebagai asisten VAR.
Pertanyaan lain yang mengemuka adalah mengapa pemirsa televisi tidak melihat garis offside digambar selama pertandingan berlangsung. Jawabannya berkaitan dengan teknologi yang digunakan musim ini, yaitu semi-automated offside technology yang menyajikan grafik titik tendangan atau kick-point untuk insiden yang sedang ditinjau.
Proses tersebut berbeda dengan metode sebelumnya, ketika tim VAR secara manual menempatkan crosshair untuk menentukan posisi offside, lalu menarik garis untuk memperjelas keputusan. Perubahan teknologi ini menjelaskan mengapa tayangan yang biasa dilihat penonton tidak lagi menampilkan garis-garis yang identik dengan era sebelumnya.
Pertanyaan Lain: Tambahan Waktu yang Dianggap Kurang
Satu hal terakhir yang belum terjawab dari derby Manchester ini adalah apakah para ofisial juga melupakan peninjauan VAR saat menentukan durasi tambahan waktu di akhir laga. Gol Haaland sendiri tercatat lahir pada menit ke-59 dan 24 detik.
Setelah peninjauan yang cukup panjang, pertandingan baru dimulai kembali pada menit ke-63 dan 15 detik. Ini berarti ada jeda signifikan yang seharusnya diperhitungkan ketika wasit menghitung waktu tambahan di akhir pertandingan.
Namun, meski terjadi keterlambatan tersebut ditambah berbagai gangguan lain sepanjang babak itu, hanya lima menit tambahan waktu yang diberikan. Ketidaksesuaian antara lamanya jeda dan jumlah tambahan waktu inilah yang menimbulkan tanda tanya baru bagi banyak pihak yang menyaksikan pertandingan.
Kesimpulan
Kontroversi gol Haaland menyisakan dua lapisan masalah yang saling berkaitan: kesalahan penilaian dalam pengesahan gol dan proses peninjauan yang dianggap tidak dijalankan sesuai prosedur. VAR dinilai terlalu lama berfokus pada apakah Fernandez menyentuh bola, sementara inti persoalan sesungguhnya adalah dampak posisi pemain tersebut terhadap jalannya permainan.
Dengan pengakuan resmi dari Pro Ref, pertanyaan yang tersisa bukan lagi soal apakah kesalahan terjadi, melainkan bagaimana prosedur peninjauan bisa diperbaiki agar momen serupa tidak terulang. Bagi Manchester United, keputusan itu jelas merugikan, sedangkan bagi Premier League, insiden ini menjadi catatan penting soal keterbatasan sekaligus risiko dari sistem yang dipakai saat ini.
