Konteks Laga Panas Argentina vs Inggris
Tak sampai dua menit usai kemenangan dramatis Argentina atas Swiss di perempat final, pelatih Lionel Scaloni sudah dicecar pertanyaan tentang calon lawan di semifinal. Sang jurnalis menyebut laga melawan Inggris bukan sekadar pertandingan biasa, melainkan sarat emosi. Scaloni langsung memotong, “Ini pertandingan sepak bola, oke? Jangan cari-cari yang lain. Ini hanya pertandingan sepak bola.”
Ucapan Scaloni nyaris identik dengan pernyataan Diego Maradona 40 tahun lalu menjelang Argentina vs Inggris di perempat final Piala Dunia 1986. Saat itu, media membingkai laga tersebut sebagai proxy Perang Falklands—konflik 74 hari yang merenggut 649 tentara Argentina, 255 tentara Inggris, dan tiga warga sipil. Maradona juga berkata, “Ini hanya pertandingan,” berulang kali, sama seperti Scaloni sekarang.
Bayangan Maradona dan Luka Sejarah
Meski Maradona sudah tiada sejak 2020, sosoknya tetap hidup di setiap momen Argentina vs Inggris. Foto dirinya merayakan gol kedua di 1986 dengan latar suporter Inggris yang marah terus beredar di media sosial. Klip-klip lama di mana ia berkata “bermain dengan sepatu dan senapan” untuk balas dendam masih viral. Bahkan kecurigaan Maradona terhadap “curangnya” Inggris di Piala Dunia 2018 dan 1966 juga diwariskan ke generasi baru.

Pengaruh Maradona di Skuad Saat Ini
Suporter Argentina tak segan membawa spanduk bergambar Maradona ke stadion-stadion Amerika Serikat, seringkali berdampingan dengan Lionel Messi. Lagu La Cuarta Estrella yang dinyanyikan pemain dan fans sejak Maret lalu mengandung lirik “Untuk Malvinas, untuk Diego, untuk gelar terakhir Leo”. Lagu itu sudah ada sebelum Argentina tahu akan bertemu Inggris—menunjukkan betapa dalamnya sentimen anti-Inggris yang sudah mendarah daging.
Messi Akhirnya Hadapi Inggris
Menariknya, Messi belum pernah bermain melawan Inggris dalam karier internasionalnya. Satu-satunya kesempatan di 2005 buyar karena skorsing. Kini di semifinal, ia mengaku, “Ini spesial karena pertama kali lawan Inggris. Mereka salah satu kekuatan besar sepak bola, selalu menarik menghadapi tim sekaliber itu.” Jawaban diplomatis khas pemain yang jarang terbuka, tapi jelas laga ini lebih dari sekadar angka di papan skor.
Kondisi Tim Argentina
Skuad asuhan Scaloni belum menunjukkan performa terbaik mereka di turnamen ini. Inti pemain mulai menua, dan mereka nyaris tersingkir dua kali oleh lawan yang secara teknis lebih lemah. Kadang, kelolosan mereka seperti hasil kekacauan belaka. Namun faktor emosional—bayangan Maradona, dendam sejarah, dan dukungan penuh suporter—bisa menjadi bahan bakar ekstra setelah bermain 240 menit dalam seminggu.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Bola
Meski Scaloni dan Messi berusaha meredam narasi politik, realitasnya Argentina vs Inggris tetap dibayangi spektrum Maradona, Perang Falklands, dan rivalitas panjang. Bagi Argentina, laga ini adalah pembuktian harga diri. Bagi Inggris, ini kesempatan membalaskan kekalahan masa lalu. Satu hal pasti: stadion akan bergemuruh, dan semua mata tertuju pada siapa yang mampu mengendalikan emosi di saat paling krusial.