Kemenangan Emosional Portugal atas Kroasia
Tim nasional Portugal berhasil meraih kemenangan dramatis 2-1 melawan Kroasia dalam laga pamungkas fase grup Piala Dunia 2026. Namun, yang paling menyita perhatian bukan hanya hasil pertandingan, melainkan penghormatan mengharukan yang diberikan para pemain untuk mendiang Diogo Jota. Momen ini sekaligus menegaskan tekad Portugal untuk memenangkan Piala Dunia 2026 sebagai persembahan terakhir bagi sang sahabat.

Setelah peluit panjang berbunyi, Cristiano Ronaldo dengan sengaja mengenakan kostum khusus bernomor punggung 21 — nomor yang biasa dipakai Jota saat membela Portugal. Seluruh skuad kemudian berkumpul mengangkat kostum tersebut ke udara, sebagai simbol bahwa semangat Jota tetap hidup di tengah mereka. Aksi ini menjadi penghormatan paling menyentuh di turnamen tahun ini.
Kisah Tragis di Balik Kepergian Diogo Jota
Diogo Jota meninggal dunia pada 3 Juli 2025, tepat setahun sebelum pertandingan melawan Kroasia. Kecelakaan mobil di Spanyol merenggut nyawanya bersama sang kakak, Andre Silva. Saat itu, pemain berusia 28 tahun tersebut sedang dalam perjalanan kembali ke Liverpool untuk persiapan pramusim, setelah sebelumnya menjalani operasi kecil.
Kepergian Jota meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan klub, tetapi juga bagi seluruh rakyat Portugal. Ia adalah sosok yang sangat dicintai — pemain yang memulai karier dari klub kecil Gondomar, lalu menembus Pacos de Ferreira, Porto, Wolverhampton, hingga akhirnya bersinar di Liverpool. Kisah perjuangannya menjadi inspirasi bagi banyak pemain muda di luar akademi tiga raksasa Portugal (Benfica, Sporting, Porto).
Penghormatan di Setiap Sudut Turnamen
Selama Piala Dunia 2026 berlangsung, timnas Portugal terus menunjukkan penghormatan kepada Jota. Sebelum lagu kebangsaan dikumandangkan, foto hitam-putih Jota merayakan gol selalu ditampilkan di layar besar stadion. Para suporter pun turut larut dalam emosi, bersorak saat melihat wajahnya.
Kapten Cristiano Ronaldo dan seluruh pemain juga mengenakan gelang khusus berwarna hijau-merah, hadiah dari Perdana Menteri Portugal Luis Montenegro. Gelang ini mencantumkan nama semua anggota skuad yang berpartisipasi, dengan tambahan satu nama spesial: Diogo Jota. Gelandang Vitinha menjelaskan, “Mereka memastikan gelang ini bisa kami pakai di lapangan. Ada semua nama pemain plus nama istimewa Diogo Jota.”
Dukungan dari Keluarga dan Sahabat
Orang tua Jota, Joaquim dan Isabel, hadir langsung di Houston saat Portugal melawan Republik Demokratik Kongo. Mereka tak kuasa menahan air mata saat penghormatan diberikan. Presiden FIFA Gianni Infantino pun menyampaikan rasa duka dan menyebut bahwa mewakili Portugal di turnamen ini adalah mimpi yang selalu dipupuk Jota bersama orang-orang yang mencintainya.
Ruben Neves, sahabat dekat Jota sejak masa di Porto dan Wolverhampton, mengaku masih sering mengirim pesan ke nomor WhatsApp mendiang. “Setiap ada kejadian spesial, saya tetap mengiriminya pesan. Grup WhatsApp dengan Rute (istri Jota) dan Diogo masih ada, dan kami terus berbicara di sana,” ungkap Neves dalam wawancara dengan stasiun TV Portugal.
Beban Emosional dan Semangat Juang
Manajer Portugal Roberto Martinez mengakui bahwa kehilangan Jota “menyakiti lebih dari sekadar sepak bola.” Namun, ia juga menegaskan bahwa semangat Jota menjadi pendorong utama tim di Piala Dunia 2026. “Setiap hari terasa berat. Saat latihan, selalu ada momen di mana Diogo kembali terlintas dalam ingatan kami. Tapi kami ingin memenangkan turnamen ini untuknya,” ujar Martinez dalam sesi konferensi pers menjelang laga melawan Kroasia.
Meski Portugal hanya memenangkan satu dari tiga pertandingan grup, tiket ke babak 16 besar sudah diamankan. Skuad asuhan Martinez akan berhadapan dengan Spanyol di babak selanjutnya, dan tekad untuk meraih gelar semakin menguat.
Warisan Diogo Jota yang Abadi
Sebelum meninggal, Jota sempat menulis di media sosial, “Denganmu di sisi kami, semuanya mungkin. Terima kasih, Portugal!” Kalimat itu kini menjadi manifesto perjuangan tim. Martinez menambahkan, “Mimpi Diogo masih bersama kami. Ia menetapkan standar dan menerangi arah grup ini. Diogo akan selalu bersama kami.”
Bukan hanya di dalam lapangan, kenangan Jota juga diabadikan secara fisik. Liverpool telah meresmikan memorial permanen di Anfield, sementara Portugal meluncurkan patung perunggu di pusat latihan mereka dekat Lisbon. Semua ini menjadi pengingat bahwa meskipun raga telah tiada, semangat seorang pahlawan tetap hidup.
Portugal kini mengemban misi ganda: meraih trofi Piala Dunia 2026 sekaligus menghormati mimpi Diogo Jota. Dengan dukungan suporter dan kekuatan emosional yang menyatu, Portugal Piala Dunia 2026 bisa menjadi kisah kemenangan yang paling mengharukan dalam sejarah sepak bola negara tersebut.