Bintang sepak bola Kylian Mbappé menjadi pusat kontroversi besar di media sosial China setelah beredar klip yang memperlihatkan dia menertawakan sebuah meme bernuansa Mao Zedong. Mbappé pun minta maaf atas komentar yang dinilainya kurang bijak. Permintaan maaf itu disusul oleh Real Madrid dan La Liga, setelah reaksi keras di China membuat sejumlah merek memutus kerja sama dan China Media Group menghentikan sementara siaran pertandingan La Liga.
Kontroversi ini muncul saat Mbappé menghadiri acara Ballon d’Or di London pada Senin malam. Di saat yang sama, warganet China menemukan potongan wawancara yang membuatnya tertawa paling keras, yaitu meme yang menempelkan wajahnya pada sosok yang digambarkan sebagai “diktator China” mirip Mao. Karena sistem sensor China memutus 1,4 miliar orang dari internet global, banyak warganet di sana tidak mengetahui persis isi lelucon yang memicu kemarahan.

Kronologi Mbappé Minta Maaf dan Respons Pihak China
Klip yang menjadi pemicu memperlihatkan Mbappé menanggapi pertanyaan tentang meme yang paling membuatnya tertawa. Dalam gambar itu, wajahnya ditempel pada sosok mirip Mao Zedong, tokoh yang memimpin salah satu bab paling berdarah dalam sejarah China. Mbappé tidak menyebut nama Mao secara langsung dalam wawancara tersebut, tetapi banyak pihak di China menilai lelucon itu tetap melewati batas.
Reaksi di media sosial China menyebar cepat. Merek-merek China satu per satu mengakhiri kerja sama dengan Mbappé, sementara China Media Group, induk stasiun CCTV, menangguhkan siaran La Liga. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa kata dan tindakan yang melukai perasaan rakyat China akan menghadapi penolakan bersama dari berbagai lapisan masyarakat.
Di tengah tekanan itu, Mbappé menyatakan penyesalan mendalam dan menyebut ucapannya sebagai keputusan yang buruk. Real Madrid dan La Liga juga menyampaikan permintaan maaf karena China merupakan pasar besar bagi sepak bola, olahraga paling populer di dunia. Beijing kemudian mengonfirmasi bahwa pihaknya menanggapi permintaan maaf tersebut dengan serius, tetapi China Media Group belum memberi kepastian soal kelanjutan siaran La Liga.
Mengapa Lelucon soal Mao Memicu Kemarahan Besar
Mao Zedong memimpin Partai Komunis China meraih kemenangan dalam perang sipil dan mendirikan Republik Rakyat China. Ia meninggal pada 1976, tetapi namanya tetap menjadi figur yang nyaris sakral di China. Karena itu, lelucon yang menyentuh sosoknya dianggap bukan sekadar candaan biasa, melainkan penghinaan terhadap simbol sejarah dan identitas nasional.
Hingga kini, potret Mao menghadap Lapangan Tiananmen dan menjadi simbol betapa sentralnya ia dalam imajinasi modern China. Tubuhnya yang diawetkan dipajang untuk publik dan menarik puluhan ribu pengunjung setiap hari. Dalam beberapa tahun terakhir, minat terhadap Mao juga kembali muncul di kalangan anak muda yang membaca karya-karyanya dan menonton klip tentangnya di media sosial.
Pemerintahan Mao juga dikenang karena gejolak besar, termasuk Lompatan Jauh ke Depan dan Revolusi Kebudayaan. Kedua kebijakan itu berkaitan dengan kelaparan yang menewaskan puluhan juta orang serta pembersihan kekerasan di berbagai lapisan masyarakat. Namun, buku sejarah China cenderung meredam sisi kelam tersebut, dan penilaian resmi Partai Komunis China menempatkan prestasi Mao lebih besar daripada kesalahannya.
Di mata Partai Komunis China, Mao adalah revolusioner besar dan Marxis besar. Pandangan ini berbeda dari sejarah di luar China yang melihatnya sebagai revolusioner sekaligus diktator. Di Weibo, seorang warganet menyebut Mao sebagai pilar spiritual rakyat China dan mempertanyakan apakah permintaan maaf sederhana cukup untuk menyelesaikan persoalan.
Sensor dan Misteri Isi Lelucon di Internet China
Meski kontroversi memuncak, banyak warganet China justru bertanya-tanya apa sebenarnya yang dikatakan Mbappé. Mereka mencoba mencari jawaban melalui chatbot AI, tetapi alat itu juga terkena sensor seperti internet China sehingga tidak mampu memberikan penjelasan. Sebagian warganet lain mencoba menjelaskan, namun menghindari penyebutan nama Mao secara langsung.
Mereka menggunakan kode seperti “orang di uang 100 yuan” dan “guru”, gelar yang pernah dipakai Mao untuk menyebut dirinya sendiri. Tangkapan layar meme dan wawancara juga dibagikan, tetapi kata “diktator” dan wajah Mbappé diblur. Baik pernyataan Kementerian Luar Negeri China maupun permintaan maaf Mbappé, Real Madrid, dan La Liga tidak menyebut nama Mao secara eksplisit.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa di China, reaksi terhadap suatu isu bisa berlangsung besar bahkan ketika informasi dasarnya tidak sepenuhnya diketahui publik. Tuduhan melukai perasaan rakyat China sudah cukup menjadi pemicu, diperkuat oleh algoritma media sosial dan lingkungan internet yang sangat terkontrol. Warganet pun cenderung menghindari posisi yang berseberangan dengan suara mayoritas.
Dampak bagi Mbappé, Real Madrid, dan La Liga
Bagi Mbappé, kontroversi ini menjadi pengingat bahwa bintang sepak bola dunia harus menghadapi sensitivitas pasar besar seperti China. Permintaan maafnya adalah langkah cepat untuk meredam dampak komersial dan politik, tetapi tidak langsung memadamkan kemarahan. Sejumlah komentar di Weibo menilai permintaan maaf sebagai kewajiban minimum, dan sebagian warganet bahkan mendukung pelarangan terhadapnya.
Untuk Real Madrid dan La Liga, insiden ini menunjukkan risiko berbisnis di pasar yang sangat dipengaruhi sensor dan opini publik. Penangguhan siaran La Liga oleh China Media Group berpotensi mengurangi jangkauan penonton serta nilai komersial liga di China. Sampai sekarang belum ada keterangan resmi tentang durasi penangguhan atau kepastian apakah siaran akan kembali.
Kasus ini juga memperlihatkan bahwa tekanan publik di China dapat bergerak sangat cepat setelah isu menyentuh simbol negara. Merek dan lembaga penyiaran mengambil jarak dari Mbappé untuk menghindari risiko reputasi. Bagi klub dan liga, kejadian ini menjadi contoh bahwa kesalahan komunikasi di ruang digital bisa berdampak langsung pada kerja sama komersial dan distribusi siaran.
Reaksi Diaspora dan Kebingungan Dunia Maya Global
Reaksi diaspora China jauh berbeda dari mayoritas warganet di dalam negeri. Beberapa pihak, termasuk aktivis dan keluarga yang meninggalkan China puluhan tahun lalu pada masa pemerintahan Mao, menilai Mbappé tidak perlu meminta maaf. Di platform X, komentar berbahasa China yang mendapat banyak dukungan menyebut bahwa pihak yang seharusnya meminta maaf adalah Partai Komunis China.
Di X dan Threads, yang tidak dapat diakses dari China, kontroversi ini memunculkan gelombang meme baru. Sebagian menampilkan wajah Mbappé pada gambar Mao lain, sedangkan sebagian lagi menempatkannya pada tubuh Xi Jinping. Perkembangan ini menunjukkan bahwa isu tersebut berkembang menjadi perdebatan politik di luar jangkauan sensor China.
Di luar itu, banyak pengguna internet global mengaku bingung dengan reaksi yang muncul. Mereka mempertanyakan mengapa lelucon seperti itu dianggap sangat serius dan mengapa sebagian warganet China tampak menuntut dunia berpikir dengan cara yang sama. Komentar di Instagram bawah permintaan maaf Real Madrid menyebut situasi itu sulit dipahami, sementara pengguna X menyoroti ironi soal penyebutan “diktator”.
Secara keseluruhan, kasus ini bermula dari klip lelucon lama, tetapi berkembang menjadi persoalan diplomatik, komersial, dan sensor. Permintaan maaf Mbappé serta klarifikasi Real Madrid dan La Liga belum sepenuhnya meredakan kemarahan di media sosial China. China Media Group juga belum memastikan apakah siaran La Liga akan dilanjutkan.
Insiden ini menunjukkan bahwa bagi bintang olahraga dan liga global, memahami batas sensitif di pasar seperti China sama pentingnya dengan menjaga performa di lapangan. Ketika simbol sejarah dan politik ikut tersentuh, reaksi publik bisa jauh melampaui lingkup sepak bola. Pertanyaan tentang isi lelucon yang sebenarnya pun tetap menjadi cermin rumitnya arus informasi di ruang digital yang tersensor.