Tottenham Hotspur pulang tanpa poin setelah kalah 2-3 dari Aston Villa pada laga akhir pekan ini, dan Roberto De Zerbi menilai penyebabnya bukan semata soal taktik. Pelatih Spurs itu menyebut timnya kekurangan “darah” dan semangat juang, terutama ketika harus bertahan dalam situasi yang menekan. Kekalahan Tottenham dari Aston Villa ini pun memperpanjang tren buruk mereka di hadapan pendukung sendiri.
Hasil tersebut membuat Tottenham melewati jeda internasional di zona degradasi. Sejak awal musim 2024-25, Spurs tercatat sudah 22 kali menelan kekalahan di laga kandang kompetisi liga, hanya terpaut satu kekalahan dari total empat musim sebelumnya yang berjumlah 23. De Zerbi pun mengakui bahwa dirinya tidak bisa hanya menunjuk pemain, karena ia sendiri dituntut berbuat lebih banyak untuk membalikkan keadaan.

Jalannya Kekalahan Tottenham dari Aston Villa
Spurs sebenarnya tampil cukup baik di babak pertama dan mampu menciptakan sejumlah peluang untuk mencetak gol. Masalahnya, mereka kehilangan momentum tepat sebelum turun minum. Johan Manzambi memanfaatkan situasi ketika Micky van de Ven harus meninggalkan lapangan untuk menjalani perawatan, lalu mencetak gol yang membawa Villa memimpin pada masa tambahan waktu babak pertama.
Setelah tertinggal, Tottenham justru tampak kehilangan kendali. Nicolas Jackson dan Emiliano Buendia menambah gol Villa di babak kedua sehingga kedudukan berubah menjadi 3-0 dan pertandingan terasa berada di luar jangkauan. Conor Gallagher akhirnya mencetak gol pertama Spurs di musim ini, disusul Jan Paul van Hecke, tetapi keduanya baru terjadi ketika laga sudah hampir usai.
Skor akhir 2-3 tetap mengunci kemenangan pertama Aston Villa di musim ini, meski mereka sempat goyah di penghujung pertandingan. Bagi Tottenham, dua gol di akhir laga tidak cukup untuk menutupi persoalan yang terjadi jauh sebelum itu. Justru momen sebelum gol-gol tersebut yang menjadi sorotan utama De Zerbi setelah pertandingan.
Dua Gol yang Menurut De Zerbi Tidak Boleh Terjadi
De Zerbi menyoroti dua gol pertama Villa sebagai momen yang seharusnya bisa dicegah oleh timnya. Menurut dia, gol pertama lahir karena komunikasi antarpemain tidak berjalan baik ketika Van de Ven berada di luar lapangan untuk perawatan. Ia menegaskan bahwa dalam kondisi seperti itu tim harus tetap rapat dan saling melindungi seperti sebuah keluarga, bukan membiarkan ruang terbuka bagi lawan.
Untuk gol kedua, De Zerbi menyinggung keputusan offside yang menganulir gol Tottenham. Meski keputusan itu jelas memengaruhi jalannya pertandingan, ia menilai fokus para pemain seharusnya tetap terjaga setelahnya. Dalam pandangannya, konsentrasi yang buyar membuat Aston Villa lebih mudah menemukan celah untuk menambah keunggulan.
Dari sisi Aston Villa, hasil ini menjadi titik terang karena mereka belum pernah menang di musim ini. Mereka sempat membuat laga menjadi menegangkan setelah Tottenham mencetak dua gol terlambat, tetapi mampu bertahan hingga peluit panjang. Kombinasi gol Manzambi, Jackson, dan Buendia terbukti cukup untuk mengamankan hasil penuh.
Sepak Bola Butuh Nyali, Bukan Hanya Taktik
Dalam wawancaranya dengan BBC, De Zerbi tidak menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai para pemainnya perlu memberikan sesuatu yang lebih di atas lapangan, sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh rancangan taktik apa pun. Menurutnya, sepak bola memang soal taktik, tetapi juga soal darah, pertarungan, dan siapa yang paling cepat merebut bola. Tanpa itu, katanya, memenangkan pertandingan menjadi sangat sulit.
De Zerbi juga menerima tanggung jawabnya sebagai pelatih. Ia mengaku masih bisa bekerja lebih baik, lebih keras, dan lebih banyak lagi untuk memperbaiki performa tim. Namun ia menambahkan bahwa ada batas yang tidak bisa ia ubah, terutama menyangkut sikap dan perilaku para pemain di lapangan.
Soal keberuntungan, De Zerbi menilai Tottenham sedang tidak berada di pihak yang beruntung. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa keberuntungan harus diperjuangkan dan pantas untuk didapatkan. Menurutnya, timnya saat ini belum cukup baik untuk layak menerima hal-hal positif tersebut.
Dampak Kekalahan dan Agenda Jeda Internasional
Konsekuensi dari hasil ini cukup berat bagi Tottenham. Mereka akan melewati jeda internasional di zona degradasi, posisi yang jelas tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Jeda tersebut juga membuat De Zerbi hanya punya waktu terbatas bersama sebagian besar pemainnya sebelum laga berikutnya melawan Manchester United pada 10 Oktober.
Meski begitu, De Zerbi tidak menutup kemungkinan bahwa jeda ini justru membawa manfaat. Ia mengaku belum berbicara banyak dengan para pemain setelah pertandingan karena tidak ingin melontarkan sesuatu yang salah, dan menegaskan tidak memiliki persoalan pribadi dengan mereka. Ia hanya menyampaikan bahwa pemain yang bergabung dengan tim nasional harus tetap bermain dan bekerja dengan baik.
Sementara itu, pemain yang tidak dipanggil tim nasional tetap harus berlatih lebih keras, termasuk James Maddison, Conor Gallagher, Dominic Solanke, Tosin Adarabioyo, Marcos Senesi, dan Savio. De Zerbi menyebut kondisi fisik para pemain sebagai salah satu hal yang tidak ia sukai dari pertandingan ini. Karena itu, latihan tambahan selama masa jeda dianggapnya sebagai keharusan, bukan pilihan.
Konteks Lebih Luas: Tren Kandang yang Mengkhawatirkan
Kemenangan ini menjadi titik terang bagi Aston Villa yang sebelumnya kesulitan meraih hasil positif. Sebaliknya, Tottenham justru terus bergulat dengan tren buruk di kandang sendiri. Angka 22 kekalahan kandang di kompetisi liga sejak awal musim 2024-25 menempatkan Spurs hanya terpaut satu kekalahan dari total empat musim sebelumnya, dan itu menunjukkan persoalan yang tidak bisa dianggap kebetulan semata.
Bagi De Zerbi, tekanan akan semakin terasa karena jeda internasional biasanya menjadi momen evaluasi bagi klub maupun suporter. Ia sendiri mengakui bahwa timnya akan terus menahan beban sampai pertandingan berikutnya dan akan berusaha tampil lebih baik. Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa persoalan Tottenham saat ini menyangkut mentalitas dan intensitas, bukan hanya susunan pemain atau skema permainan.
Pertanyaan tentang apakah jeda ini datang pada waktu yang tepat pun ia lempar kembali kepada para pemain. De Zerbi menilai itu bukan sesuatu yang bisa ia jawab sendiri, karena yang merasakan langsung atmosfer ruang ganti adalah para pemain. Yang jelas, lanjutnya, seluruh tim harus bekerja lebih keras agar tidak terus terjebak dalam situasi yang sama.
Kesimpulan
Kekalahan 2-3 dari Aston Villa meninggalkan banyak pekerjaan rumah bagi Tottenham dan Roberto De Zerbi. Gol terlambat dari Gallagher dan Van Hecke tidak cukup menutupi lemahnya komunikasi, konsentrasi, dan semangat juang yang disorot sang pelatih secara terbuka. Dengan posisi di zona degradasi selama jeda internasional, Spurs berada dalam situasi yang menuntut perubahan cepat dan nyata.
Aston Villa bisa sedikit bernapas setelah meraih kemenangan pertama musim ini, sementara Tottenham harus memanfaatkan setiap hari jeda untuk membenahi kondisi fisik dan mental pemain. Laga melawan Manchester United pada 10 Oktober akan menjadi ujian berikutnya sekaligus kesempatan bagi De Zerbi untuk membuktikan bahwa kritiknya terhadap timnya sendiri bisa dijawab dengan perbaikan di lapangan.