Soccer Football - Premier League - Burnley v Manchester City - Turf Moor, Burnley, Britain - April 22, 2026 Manchester City's Erling Haaland in action with Burnley's Hjalmar Ekdal Action Images via Reuters/Jason Cairnduff EDITORIAL USE ONLY. NO USE WITH UNAUTHORIZED AUDIO, VIDEO, DATA, FIXTURE LISTS, CLUB/LEAGUE LOGOS OR 'LIVE' SERVICES. ONLINE IN-MATCH USE LIMITED TO 120 IMAGES, NO VIDEO EMULATION. NO USE IN BETTING, GAMES OR SINGLE CLUB/LEAGUE/PLAYER PUBLICATIONS. PLEASE CONTACT YOUR ACCOUNT REPRESENTATIVE FOR FURTHER DETAILS..

Premi Transfer Premier League £20 Juta Ancam Klub Eropa

Kesenjangan harga di bursa transfer Liga Inggris kini jadi sorotan banyak pihak. Rata-rata biaya yang dikeluarkan klub Premier League untuk merekrut pemain dari sesama klub Inggris mencapai £39,4 juta, hampir dua kali lipat dibanding £20,2 juta yang mereka keluarkan untuk pemain dari luar negeri. Selisih inilah yang kemudian disebut sebagai premi transfer Premier League, semacam pajak tidak resmi yang harus ditanggung klub mana pun yang ingin membeli pemain dari dalam liga.

Istilah tersebut dipopulerkan oleh Kieran Maguire, profesor keuangan sepak bola dari University of Liverpool, yang menyebutnya sebagai “pajak Premier League”. Kekhawatiran ini mencuat setelah jendela transfer musim panas mencetak sejumlah rekor belanja baru, sementara klub-klub Eropa mulai merasa tersisih dari perburuan pemain. Sebagian pihak menilai fenomena ini tidak hanya mengubah cara klub Inggris berbisnis, tetapi juga mengancam keseimbangan kompetisi di Benua Eropa.

Premier League

Bagaimana Premier League Mengubah Peta Pasar Transfer

Pola belanja klub-klub Premier League bukan sekadar soal besaran biaya, melainkan juga soal siapa yang mereka pilih sebagai mitra transaksi. Jika melihat kesepakatan bernilai besar, yakni £40 juta atau lebih, jumlahnya berlipat dua dibanding dua tahun lalu. Pada 2024-25 tercatat 13 kesepakatan semacam itu, sedangkan pada musim panas ini jumlahnya melonjak menjadi 27.

Yang lebih menarik adalah komposisinya. Dua tahun lalu, ada tujuh transfer senilai £40 juta ke atas yang dilakukan dengan klub-klub di Benua Eropa, sementara hanya enam yang terjadi antar sesama klub Premier League. Kini gambarannya berubah cukup tajam, karena transaksi antar klub Inggris melesat tiga kali lipat dari enam menjadi 18. Total belanja untuk seluruh transfer domestik pun lebih dari dua kali lipat.

Meski secara nominal total pengeluaran ke klub luar Inggris masih lebih besar, proporsi transfer mahal yang terjadi di dalam negeri kini justru melampaui transfer ke luar negeri. Hanya klub-klub elite Eropa yang masih mampu menyaingi daya beli tim Premier League. Di sisi lain, keuntungan dari penjualan pemain menjadi kunci bagi klub Inggris untuk mendaur ulang dana agar tetap patuh pada aturan keuangan.

Mengapa Premi Transfer Premier League Melonjak

Menurut Maguire, salah satu penyebabnya adalah klub Inggris kini memantau pemain asing begitu intensif sehingga mereka direkrut jauh lebih awal dan lebih cepat “dibentuk” menjadi pemain Premier League. Ia menyebut ada sekelompok klub baru yang bekerja seperti “anak-anak algoritma” karena merekrut langsung dari pasar internasional. “Mereka membawa pemain ke Premier League, lalu klub Big Six merekrut yang terbaik,” ujar Maguire kepada BBC Sport.

Contoh paling jelas adalah Carlos Baleba. Brighton membelinya dari Lille tiga tahun lalu dengan harga £23 juta, dan belum lama ini menjualnya ke Manchester United senilai £70 juta. Menurut Maguire, pola tersebut praktis menciptakan semacam wilayah perekrutan atau cawan petri untuk menguji pemain asing mana yang benar-benar mampu tampil di Premier League. Hasilnya, semua pihak yang terlibat dianggap sama-sama diuntungkan.

Namun, itu hanya sebagian dari cerita. Ada pula transfer yang sepertinya hanya mungkin terjadi di Premier League. Apakah klub Eropa mau membayar £75 juta seperti yang dikeluarkan Tottenham untuk Savio dari Manchester City? Atau £65 juta ke Everton untuk Iliman Ndiaye? Bagaimana pula dengan £85 juta yang diterima West Ham dari Spurs untuk Mateus Fernandes? Sebagai penegas, hanya tujuh rekrutan senilai £40 juta atau lebih yang dilakukan klub Eropa musim panas ini dari sesama klub kontinental, dan semuanya dilakukan oleh Barcelona, Bayern Munich, serta Paris St-Germain.

Trevor Watkins, mantan chairman Bournemouth yang kini berprofesi sebagai pengacara olahraga, mengatakan kepada BBC 5 Live Breakfast bahwa Premier League nyaris beroperasi di dalam gelembungnya sendiri. “Pendapatan mereka membuat liga lain tampak kerdil,” kata Watkins. Ia menambahkan bahwa banyak uang mengalir ke liga-liga bawah, tetapi juga antar klub Premier League, karena merekalah yang kemungkinan besar sanggup membayar gaji maupun biaya transfer sebesar itu.

Pasar Transfer Kini Jadi Permainan Spreadsheet

Bursa transfer tampaknya telah berubah menjadi permainan spreadsheet, di mana membandingkan nilai seorang pemain dengan pemain lain hampir mustahil dilakukan. Penyebabnya sederhana, tetapi penjelasannya jauh lebih rumit. Keuntungan dari sebuah transfer dalam beberapa hal lebih penting daripada kontribusi pemain berupa penyelamatan, sapuan, umpan, atau gol, karena profit itulah yang memungkinkan klub berinvestasi ulang ke skuad.

Ambil contoh Elliot Anderson. Nottingham Forest membelinya dari Newcastle seharga £35 juta, lalu menjualnya senilai £116 juta. Angka itu tidak otomatis berarti keuntungan £81 juta. Biaya transfer awal dirata-ratakan sepanjang durasi kontraknya bersama Forest, sehingga ketika ia pindah ke Manchester City, sekitar £21 juta masih tercatat di pembukuan klub.

Di bawah aturan squad cost ratio (SCR) baru milik Premier League, itu setara dengan keuntungan £95 juta yang dirata-ratakan selama tiga tahun, atau sekitar £31,67 juta per tahun bagi Forest. Konsekuensinya, klub tidak lagi bisa menjual pemain sebagai solusi kilat sekali pakai, entah untuk menambah daya belanja di satu jendela transfer atau untuk menghindari pelanggaran aturan keuangan. Ini justru membuat kemampuan menghasilkan biaya transfer tinggi semakin penting, karena profit rata-rata yang lebih besar akan memperbaiki posisi SCR yang perhitungannya dilakukan per musim.

Namun, aturan SCR jelas menguntungkan klub-klub terbesar dengan kekuatan finansial paling besar. Big Six yang terdiri dari Arsenal, Chelsea, Liverpool, Manchester City, Manchester United, dan Tottenham, dengan pendapatan komersial yang skalanya berbeda jauh, total membelanjakan £1,658 miliar. “Klub-klub itu membuat diri mereka tahan menghadapi masa depan dengan mengupayakan pendapatan yang lebih besar,” kata Maguire. Ia mencontohkan Spurs yang kini memiliki stadion multifungsi dan multi-olahraga, dengan klub sepak bola sebagai bagian terbesarnya. Menurutnya, itu adalah hadiah bagi klub yang memperluas stadion atau berpikir di luar kebiasaan untuk mencari pendapatan tambahan.

Bagi 14 klub lainnya, yang total membelanjakan £1,833 miliar, jual beli pemain menjadi sangat krusial. Aston Villa dan Newcastle bersama-sama menuntaskan lima kesepakatan senilai £40 juta atau lebih, tetapi itu baru bisa dilakukan setelah keduanya mengantongi ratusan juta pounds dari penjualan pemain.

Klub Eropa Kesulitan Bersaing di Bursa Pemain

Jika klub Premier League semakin banyak membelanjakan uangnya di antara mereka sendiri, artinya semakin sedikit dana yang mengalir ke Benua Eropa. Meski demikian, muncul kekhawatiran bahwa hal ini tetap akan menjadi pemicu inflasi biaya transfer dan gaji di seluruh Eropa. Pada Rabu, Javier Gomez, corporate general director La Liga, mengkritik apa yang ia sebut sebagai “model merugi yang menjadi persoalan eksklusif Premier League”.

“Ini punya konsekuensi lain,” kata Gomez. “Ini menginflasi seluruh sektor, menginflasi Premier League, Bundesliga, Liga Prancis, dan akhirnya kami juga.” Kritik tersebut menggambarkan kekhawatiran bahwa dominasi finansial Liga Inggris turut mendorong harga pemain dan upah naik di liga-liga yang daya belinya jauh lebih terbatas.

Beberapa klub yang secara historis besar di Eropa kini menemukan diri mereka tidak lagi mampu bersaing dengan tim papan atas Premier League. Menurut Maguire, dengan pengecualian sejumlah merek global seperti Real Madrid, Barcelona, PSG, dan Bayern Munich, Premier League bisa mengalahkan belanja siapa pun dan di mana pun. Ia merujuk pada Deloitte Money League terbaru yang menempatkan 14 klub Premier League di antara 30 tim terbesar dunia, dengan Real, Barca, PSG, dan Bayern menempati empat posisi teratas, sementara Liverpool memimpin enam klub Inggris yang mengisi 10 besar.

Andre Villas-Boas, presiden FC Porto, mengatakan klubnya harus meningkatkan upaya pemantauan bakat alih-alih terlibat perang penawaran yang tidak mungkin dimenangkan. “Bagi Porto, artinya kami bersaing untuk mendapatkan talenta bukan dengan Man City atau Liverpool, melainkan dengan Coventry dan Brentford,” kata Villas-Boas kepada BBC Sport. Ia menyebut kekuatan belanja klub-klub Inggris sebagai hal yang menyulitkan Porto, dan menilai Premier League kini terpisah dari yang lain sehingga klub Inggris semakin dominan di kompetisi Eropa.

Ketimpangan yang Makin Melebar di Sepak Bola Eropa

Dominasi finansial itu sudah terlihat dari hasil di lapangan. Aston Villa dan Crystal Palace menjuarai Europa League dan Conference League pada musim lalu, sementara Arsenal harus mengakui keunggulan Paris St-Germain di final Champions League. Pencapaian tersebut memperkuat kesan bahwa kedalaman skuad dan kekuatan ekonomi klub Inggris memberi keuntungan nyata di kompetisi antarklub Eropa.

Belanja transfer Premier League pun digambarkan sebagai gelembung yang menolak pecah. Selama pendapatan komersial dan hak siar liga tetap berada di level tertinggi dunia, klub-klub Inggris akan terus memiliki ruang fiskal yang jauh melampaui pesaing mereka di Benua Eropa. Kondisi ini berisiko menciptakan ketimpangan yang semakin lebar dalam ekosistem sepak bola Eropa secara keseluruhan.

Dari paparan di atas, terlihat bahwa premi transfer Premier League bukan sekadar soal selisih harga pemain, melainkan cerminan ketimpangan ekonomi yang makin mengakar. Klub Inggris saling berdagang pemain dengan nilai yang sulit ditandingi klub Eropa, sementara aturan keuangan seperti SCR justru memperkuat posisi klub-klub besar. Bagi klub di luar Inggris, termasuk Porto, tantangan terbesarnya bukan lagi mengalahkan Manchester City atau Liverpool di meja negosiasi, melainkan bertahan di bursa pemain yang harganya terus didorong ke atas oleh kekuatan Liga Inggris.