Lauren James menyalakan pesta kecil di lini serang, dan cameo singkat Michelle Agyemang sempat membuat kita semua bertepuk tangan—dua hal positif sejauh mata memandang di laga pilu ini.
Bayangkan sejenak, Sabtu lalu di Zurich: setelah Alessia Russo ‘digagalkan’ oleh garis offside sejinak kura-kura (16’), Les Bleues asyik mendominasi bak raja di turnamen mix parlay—alias pertandingan berat sebelah yang kita ikuti tanpa dapat untung satu poin pun. Lalu, di menit ke-88 plus tiga menit tambahan, Keira Walsh entah dari mana memutuskan jadi penembak jitu, melengkungkan bola masuk ke gawang Prancis dan mempersempit skor jadi 1-2. Plong, napas kita serentak lega. Seolah Lionesses baru saja menang jackpot di permainan mix parlay yang tadinya kita kira cuma judi angka-angka kosong.
Tapi, kenyataannya… kalau saja tembakan Ella Toone, Grace Clinton, Lauren Hemp, atau Michelle Agyemang benar-benar nyangkut di jaring Prancis, itu bakal jadi keajaiban tak terduga—kayak dapat free spin di mesin slot saat main mix parlay! Sayangnya, semua usaha itu berlalu bak angin lalu, tanpa hasil yang pantas disyakir.
Russo? Ditelepon offside oleh sang wasit—padahal marginnya sesempit sehelai rambut. Sementara Sarina Wiegman di pinggir lapangan geleng-geleng melihat tak ada penalti saat Prancis mencetak gol kedua. Kita semua menangkal kata “ketidakberuntungan” dan kalah mengakui: pertahanan Inggris malam itu benar-benar ngambang, kayak taruhan kita di mix parlay yang kabur tak tentu arah.
Leah Williamson, pahlawan Arsenal usai juara Liga Champions, berubah jadi sirkus ketika menandingi Marie-Antoinette Katoto untuk gol pertama, lalu kebingungan sendiri saat Sandy Baltimore beraksi untuk gol kedua. Karen Carney sampai teriak di TV, “Wah, Leah! Kamu kan lebih baik daripada ini!” Lucy Bronze pun terbang melewati Baltimore, lalu tanpa sengaja menggelontorkan assist untuk gol itu—nge-ghosting performa defensifnya sendiri.
Jess Carter? Dikeplak habis-habisan Delphine Cascarino, sampai mungkin terbangun malam-malam keringet dingin. Hannah Hampton sempat oleng dan nyaris memasukkan bola sendiri dari tembakan Grace Geyoro. Beth Mead, Georgia Stanway, Keira Walsh—mereka layaknya pemain mix parlay yang terus-terusan lose bet: bola pantul langsung hilang, umpan berakhir bencana.
Tapi, hei! Ini baru pertandingan pembuka. Masih ada waktu untuk redeem diri. Rabu nanti kita hadapi Belanda, lalu weekend jumpa Wales. Sayangnya, ini bukan ujian beli tiket lotre mix parlay—tidak ada tombol “cash out” setelah kalah besar. Kalah lagi dari Oranje, maka catatan manis kita akan tercatat sebagai juara bertahan pertama yang terlempar di fase grup Euro. Kita datang ke Swiss bukan untuk jadi bahan lawak, tapi siapa tahu di laga selanjutnya, Lionesses bisa drama comeback bak nonton serial turnamen mix parlay yang bikin deg-degan!
Jadi, siapkan strategi, semangat, dan… mungkin sedikit keberuntungan, agar bukan hanya tulisan tentang “kalah tragis” yang kita ingat, tapi juga cerita heroik ala “mimpi menang mix parlay”!
