Manchester City dinyatakan bersalah atas mayoritas dari 115 tuduhan yang dijatuhkan kepada mereka, dan keputusan itu langsung memicu gelombang reaksi dari kalangan pendukung klub. Seorang fan City, Steven McInerney, menyebut pekan ini sebagai salah satu pekan terpanjang dalam hidupnya karena situasinya terasa berubah setiap beberapa detik. Pria berusia 41 tahun asal Manchester itu mengaku suasana hatinya berpindah-pindah, dari kebiasaan menggulir berita buruk tanpa henti dan membayangkan skenario terburuk, sampai tiba-tiba merasa membangkang dan berpikir bahwa ini semua sekadar soal sepak bola.

Vonis tersebut belakangan dikonfirmasi oleh Premier League, meski klub tetap membantah seluruh tuduhan dan kini mengajukan banding atas keputusan itu. Dua pekan sudah berlalu sejak kabar vonis pertama kali muncul, dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda penyelesaian yang cepat: hasil banding maupun bentuk sanksi yang mungkin dijatuhkan masih sama-sama tidak diketahui. Kondisi itu, pada gilirannya, memberi banyak waktu bagi mereka yang mendukung sisi biru Kota Manchester untuk merenung dan memikirkan seperti apa masa depan klub kesayangan mereka.
Vonis 115 Tuduhan Manchester City dan Suasana di Kalangan Pendukung
McInerney bukan satu-satunya yang merasakan gejolak emosi seperti itu. Ia mengaku bahwa hampir tidak ada orang yang mengira vonis akan keluar, karena proses ini sudah berjalan begitu lama, sehingga keputusan tersebut membuatnya syok sekaligus mengejutkan dunia sepak bola secara umum. Harapan utamanya sekarang sederhana: memastikan klubnya mampu melewati badai ini. Menurutnya, ketika klub melakukan hal-hal yang berada di luar kendali seorang pendukung, dampaknya tetap terasa secara personal, dan menikmati sepak bola akan jauh lebih sulit sampai seluruh persoalan ini tuntas.
Ia juga menyadari bahwa tidak semua orang akan peduli pada perasaan para pendukung, dan menurutnya itu wajar. Namun baginya, dukungan tidak berhenti hanya karena klub sedang bermasalah. Sikap semacam ini seolah menjadi pola umum di antara para fan Manchester City, yang terbiasa melewati pasang surut bersama klub mereka.
Kronologi Kasus yang Menggantung Sejak Februari 2023
Perlu dipahami bahwa kasus ini bukan perkara yang muncul tiba-tiba. Persoalan tersebut telah membayangi Premier League sejak Februari 2023, dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Tuduhan yang dinyatakan terbukti berkaitan dengan periode 2009-10 hingga 2017-18, rentang waktu ketika Manchester City meraih tiga gelar Premier League, termasuk saat menyalip Liverpool pada musim 2013-14. Kenangan mengangkat trofi-trofi itu akan tetap hidup di ingatan para pendukung, terlepas dari apa pun yang terjadi selanjutnya.
Bagi McInerney sendiri, ikatan dengan klub ini sudah terbangun sejak lama. Laga pertamanya menonton City berlangsung pada 1994, saat klub sedang menikmati musim ketiga berturut-turut di kompetisi teratas Inggris yang baru saja dibentuk, di bawah asuhan Brian Horton. Pengalaman panjang itulah yang membuatnya menganggap naik-turunnya emosi sebagai hal yang normal bagi seorang pendukung City.
Pendukung lain, Rachel Herdson dari Altrincham, menegaskan bahwa kesetiaannya tidak tergoyahkan. Ia bercerita bahwa saat pergi tidur ia adalah penggemar Manchester City, ia bangun tetap sebagai penggemar City, dan bahkan setelah pernyataan resmi Premier League yang mengguncang itu keluar, statusnya sebagai fan City tidak berubah. Ia telah menjadi pemegang tiket musiman sejak 1989, jauh sebelum era kesuksesan besar klub dimulai.
Sanksi yang Mengancam jika Banding Gagal
Jika upaya banding Manchester City tidak berhasil, sanksi yang mungkin dijatuhkan sangat beragam. Kemungkinan tersebut meliputi denda bernilai besar, pengurangan poin, larangan melakukan transfer pemain, hingga pengeluaran klub dari Premier League. Ragam hukuman ini disebut-sebut sebagai hal yang diinginkan sejumlah klub rival, yang menuntut konsekuensi tegas atas kasus tersebut.
Meski begitu, Herdson melihat langkah banding sebagai sumber harapan. Menurutnya, fakta bahwa klub memperjuangkan keputusan itu membuatnya lebih percaya bahwa nama baik City bisa dibersihkan. Namun ia juga jujur mengakui tidak sedang bersenang hati, karena nama klub sudah telanjur tercoreng. Bahkan jika perkara ini berlanjut ke pengadilan tinggi dan banding dimenangkan dengan cara apa pun, menurutnya noda itu tetap sulit dihapus.
Ia juga menyayangkan bahwa di tengah semua keriuhan ini, sebagian pencapaian klub justru terlupakan. Kontribusi pemain seperti Kevin de Bruyne dan David Silva, serta gelar-gelar yang mereka raih, seolah tenggelam oleh pemberitaan soal tuduhan. Bagi Herdson, apa pun hasil akhirnya, Manchester City tetaplah klubnya, dan ia berjanji akan tetap hadir mendukung seperti yang selalu ia lakukan.
Old-School Away Day di Anfield sebagai Jawaban Fans
Setelah jeda internasional, Manchester City akan kembali bertanding dengan laga tandang melawan Liverpool. Menyambut laga itu, kelompok pendukung menyiapkan sebuah “old-school away day” di Anfield, dengan mengajak sekitar 3.000 suporter yang melakukan perjalanan untuk mengenakan kaus retro dan membawa berbagai pernak-pernik tiup. Balon pisang tiup sendiri dipopulerkan oleh pendukung City pada dekade 1980-an dan sejak itu identik dengan klub tersebut. Maksud dari aksi ini adalah menegaskan bahwa Manchester City tidak akan didefinisikan oleh apa yang terjadi dalam 10 sampai 15 tahun terakhir.
Pemegang tiket musiman Dave Wilson, yang akan hadir di Anfield, mengingat bahwa para pendukung pernah melewati masa-masa kelam dan berhasil melaluinya dengan humor. Ia mengenang bahwa balon pisang muncul ketika klub berada di kasta kedua, saat kondisi sepak bola secara umum tidak sedang dalam situasi yang menyenangkan, dan hal itu dilakukan semata untuk membawa keceriaan. Menurutnya, pendukung City tidak akan bersembunyi dari klub mereka, dan apa pun yang akhirnya terjadi, mereka akan menyikapinya dengan cara khas mereka sendiri.
Fokus di Lapangan dan Tekad Generasi Muda
Perhatian juga tertuju pada bagaimana skuad menyikapi situasi ini. Pemberitaan terbaru menyebut bahwa pelatih Manchester City menuntut mentalitas terkepung dari para pemainnya, sekaligus menggambarkan suasana di dalam tim saat ini sebagai sesuatu yang fantastis. City sendiri akan menuju Anfield dengan status pemuncak klasemen Premier League, dan para pendukung menilai bahwa kerja di lapangan tidak seharusnya dikalahkan oleh persoalan di luar lapangan.
Perwakilan klub pendukung resmi, Kevin Parker, menilai para pemain adalah profesional yang akan tetap menjalankan tugasnya, terlebih karena mereka sudah berpengalaman sebagai pemain internasional. Ia mengingatkan bahwa Anfield selalu punya atmosfer yang tidak bersahabat, meski tidak semata-mata karena kasus yang sedang menimpa City. Menurutnya, persoalan ini telah menggantung di atas klub seperti pedang Damocles selama delapan tahun terakhir, lengkap dengan nyanyian dan sorakan dari tribun lawan, dan semua itu bukan hal baru bagi mereka.
Di sisi lain, muncul pula suara dari pendukung muda. Rylan Vernon, yang lahir di Manchester pada 2008 dan kini berusia 18 tahun, mengaku memilih mendukung sisi biru kota itu meski sebagian besar temannya adalah penggemar Manchester United. Ia hanya mengenal kesuksesan, dengan puncaknya adalah Treble pada musim 2022-23. Ia menilai aturan yang ada dibuat oleh klub-klub besar agar tidak ada pihak lain yang bisa tumbuh menjadi besar, dan ketika ada klub kecil yang berhasil melakukannya, klub itu justru dipersoalkan soal aturan keuangan.
Vernon tidak ingin membayangkan kemungkinan banding klub gagal, dan menegaskan bahwa di liga mana pun City bermain, dukungannya tidak akan berkurang. Baginya, belum ada satu pun hal yang benar-benar terkonfirmasi, sehingga ia memilih terus mendukung timnya. Ia bahkan yakin bahwa jika klub harus turun kasta, mereka akan segera kembali ke tempat semula.
Rangkaian reaksi ini menunjukkan satu hal: kasus 115 tuduhan Manchester City belum mencapai babak akhir, dan ketidakpastian justru menjadi beban tersendiri bagi para pendukung. Vonis telah keluar, Premier League sudah mengonfirmasinya, tetapi banding dan sanksi masih menjadi tanda tanya besar yang bisa mengubah arah masa depan klub. Di tengah semua itu, para fan memilih bertahan dengan cara mereka masing-masing, ada yang memantau berita tanpa henti, ada yang menegaskan kesetiaan, dan ada yang bersiap membawa balon pisang ke Anfield.
Apa pun keputusan akhirnya nanti, perjalanan banding Manchester City akan tetap menjadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah modern klub. Bagi pendukungnya, pertanyaan sebenarnya bukan sekadar liga mana yang akan diikuti klub, melainkan bagaimana mereka tetap hadir ketika keadaannya tidak lagi sesederhana era penuh trofi.