Paulo Dybala berpeluang besar kembali memperkuat Roma saat menjamu Cagliari pada Selasa, setelah absen karena cedera betis. Pelatih Gian Piero Gasperini menyebut pemain asal Argentina itu sebagai satu-satunya nama yang mungkin tersedia untuk laga lanjutan Serie A tersebut, meski kemungkinan besar baru dimainkan dari bangku cadangan.
Kembalinya Dybala dari cedera betis menjadi kabar penting bagi Roma yang tengah menjaga momentum di papan atas klasemen. Sang penyerang sudah mencatat empat assist di Serie A musim ini dan tidak ada pemain lain yang menyamai jumlah tersebut. Karena itu, kehadirannya, bahkan sebagai pemain pengganti, bisa menambah daya gedor tim di sepertiga akhir lapangan.

Kembalinya Dybala dari Cedera Betis
Dybala harus meninggalkan lapangan saat turun minum dalam kekalahan 4-3 Roma dari Real Madrid pada 14 Oktober. Sejak cedera betis itu, ia sudah melewati tiga pertandingan tanpa bisa dimainkan. Pemulihannya kini memasuki tahap akhir, dan Gasperini membuka peluang memasukkan namanya ke dalam daftar pemain yang dibawa menghadapi Cagliari.
“Dalam hal pemulihan, satu-satunya yang mungkin adalah Dybala,” ujar Gasperini dalam konferensi pers menjelang laga. Ia sekaligus menepis kemungkinan Manu Kone dan Mile Svilar tampil. Menurutnya, target realistis saat ini adalah melihat Dybala duduk di bangku cadangan, dan itu sendiri sudah dianggap sebagai kemajuan yang positif.
Meski belum mencetak gol di musim 2026-27, peran Dybala tetap besar dalam start tak terkalahkan Roma di Serie A. Empat assist yang ia sumbangkan menjadikannya penyumbang assist terbanyak di kompetisi sejauh ini. Kontribusi itulah yang menjelaskan mengapa Gasperini sangat berhati-hati sekaligus berharap bisa memakai jasanya lagi dalam waktu dekat.
Kronologi dan Posisi Roma di Klasemen
Roma terakhir bermain imbang 3-3 dengan Napoli setelah dua kali tertinggal lebih dulu. Hasil itu membuat mereka tertinggal empat poin dari pemuncak klasemen Serie A usai delapan pertandingan. Rentetan hasil positif tersebut menjadi alasan mengapa laga melawan Cagliari terasa krusial untuk menjaga tekanan pada Inter dan Lazio di puncak.
Ada catatan menarik lain yang memperkuat posisi Roma: mereka tidak terkalahkan dalam 16 pertandingan kandang berturut-turut di kompetisi liga, dengan rincian 12 kemenangan dan 4 imbang. Ini merupakan rentetan terpanjang mereka sejak periode Juli 2020 hingga Februari 2021 di bawah asuhan Paulo Fonseca, yang juga mencatat 16 laga. Rekor tersebut menjadi modal kepercayaan diri ketika Cagliari datang ke markas Roma.
Dampak bagi Rotasi dan Persaingan di Puncak
Gasperini mengisyaratkan akan melakukan rotasi, tetapi menegaskan keputusan akhirnya bergantung pada penilaian terhadap kekuatan lawan. Menurutnya, skuad Roma saat ini cukup dalam untuk menjalani rotasi tanpa kehilangan kualitas. Namun dengan Kone dan Svilar dipastikan absen, ruang gerak pelatih dalam menyusun komposisi menjadi lebih terbatas.
Kehadiran Dybala, meski hanya sebagai opsi dari bangku cadangan, memberi Gasperini alternatif ketika pertandingan berjalan buntu. Perannya sebagai kreator serangan membuat Roma punya jalan lain saat pola permainan utama menemui hambatan. Di sisi lain, kembalinya pemain berpengalaman seperti Dybala turut mengirim sinyal bahwa skuad Roma siap bersaing menjaga jarak dengan Inter dan Lazio.
Keputusan menurunkan atau menyimpan Dybala juga perlu mempertimbangkan risiko cedera ulang. Cedera betis kerap meninggalkan efek sisa bila pemain dipaksa tampil sebelum benar-benar pulih. Karena itu, membatasi waktu bermainnya di laga pertama bisa menjadi langkah yang lebih bijak, terutama karena jadwal padat menanti dalam beberapa pekan ke depan.
Konteks: Tren Cagliari dan Ambisi Roma
Cagliari datang ke laga ini dengan tren menurun setelah kalah dalam dua pertandingan liga terakhir. Sebelumnya, mereka sempat memulai musim dengan performa yang menjanjikan, sehingga penurunan ini menjadi perhatian tersendiri. Bagi Roma, situasi tersebut adalah peluang untuk meraih poin penuh sekaligus menjaga jarak dari pesaing di papan atas.
Gasperini menegaskan Roma tidak akan mengubah cara bermain. Menurutnya, tim punya kontinuitas dan harus terus bergerak maju, dengan target peningkatan yang tidak mengenal batas. Ia menilai pengulangan hal-hal yang diinginkan di lapangan itulah yang mendatangkan hasil dari waktu ke waktu.
“Skuad kami tumbuh, dan kami punya klub yang mendorong kami untuk proaktif dan berani,” kata Gasperini. Pernyataan itu menunjukkan bahwa tantangan melawan Cagliari bukan sekadar soal tiga poin, melainkan bagian dari proses membangun identitas tim. Roma ingin memastikan tren positif ini berlanjut, dengan atau tanpa Dybala sejak menit pertama.
Singkatnya, kembalinya Dybala dari cedera betis menjadi tambahan kekuatan bagi Roma jelang menghadapi Cagliari. Meski kemungkinan besar dimulai dari bangku cadangan, kehadirannya memberi Gasperini opsi tambahan di lini serang sekaligus menjaga tempo rotasi skuad yang sedang sibuk.
Dengan rekor 16 laga kandang tanpa kekalahan dan posisi empat poin dari puncak, Roma punya alasan untuk optimistis. Laga melawan Cagliari menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa kontinuitas yang dibangun Gasperini bukan sekadar tren sesaat, melainkan fondasi untuk bersaing lebih lama di jalur juara.