High Press Liverpool Krusial untuk Suplai Bola ke Isak

Manajer Liverpool, Andoni Iraola, menilai high press Liverpool menjadi faktor penentu untuk memberikan pelayanan terbaik kepada Alexander Isak. Menyusul kemenangan 2-0 atas Ipswich Town di Portman Road pada Jumat malam, ia mengaku kerap terlibat “pertarungan” dengan sang striker soal kontribusinya di luar urusan mencetak gol. Menurut Iraola, tanpa tekanan tinggi yang maksimal, timnya akan kesulitan menghubungkan bola dengan Isak di area berbahaya.

Liverpool

Kemenangan ini menjadi tiga poin perdana Liverpool di Premier League musim ini setelah dua laga sebelumnya gagal meraih hasil maksimal. Isak menjadi aktor utama dengan dua gol cepat di sembilan menit pertama, sementara Cody Gakpo berperan besar lewat dua assistnya. Laga kontra Ipswich sekaligus memperlihatkan pola permainan Liverpool yang ingin memaksimalkan potensi penyerang nomor sembilannya melalui pressing ketat sejak menit awal.

Brace Cepat Isak Bawa Liverpool Raih Kemenangan Perdana

Liverpool akhirnya memetik kemenangan pertama mereka di Premier League musim ini pada percobaan ketiga. Dua gol Isak tercipta dalam sembilan menit pertama laga, dan skor 2-0 bertahan hingga pertandingan usai. Laga ini pun mencatatkan sejumlah statistik langka bagi Liverpool di era Premier League.

Brace Isak menjadi yang tercepat bagi pemain The Reds dalam laga Premier League sejak Maxi Rodriguez melakukannya melawan Fulham pada Mei 2011, ketika ia mencetak dua gol hanya dalam tujuh menit. Gakpo juga mencatatkan namanya dalam buku rekor karena menjadi kreator kedua gol Isak dengan umpan-umpan yang membelah pertahanan Ipswich. Dua assist Gakpo untuk pemain yang sama dalam satu pertandingan Premier League tercatat sebagai yang tercepat sejak Steve Guppy melakukannya untuk Emile Heskey pada April 1998, yaitu dalam delapan menit kala melawan Derby County.

Catatan Isak di Portman Road memang luar biasa. Ia mengoleksi lima gol hanya dari dua kunjungan Premier League ke stadion milik Ipswich tersebut. Menariknya lagi, sejak awal musim 2024-25, hanya mantan striker Ipswich, Liam Delap, yang mampu mencetak lebih banyak gol di venue itu, yaitu enam gol dari 18 penampilan. Sementara itu, akun OptaJoe juga mencatat bahwa hanya tiga pemain di abad ini yang memiliki koleksi gol Premier League di Portman Road lebih banyak daripada Isak, padahal ia tidak pernah membela Ipswich.

Iraola Akui Sering “Bertengkar” dengan Isak di Luar Soal Gol

Dalam wawancara dengan Sky Sports setelah pertandingan, Iraola sempat mempertanyakan kerja tanpa bola dari Isak. Kendati demikian, ia tetap memberi pujian besar kepada striker asal Swedia itu. “Dia pemain yang sangat penting bagi kami. Tuntutan saya tidak akan berfokus pada gol: dia dalam kondisi prima dan akan menghasilkan angka-angka itu,” ujar Iraola.

Pelatih asal Spanyol itu kemudian membuka soal “pertarungan” yang kerap terjadi antara dirinya dan Isak. “Pertarungan saya dengannya lebih banyak soal hal lain, bagaimana cara membantu tim dalam situasi yang berbeda. Bagusnya, dia sudah memainkan dua laga penuh dan hari ini mendapat menit bermain yang banyak sambil mencetak gol,” jelasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa standar Iraola terhadap pemain bintangnya tidak berhenti pada produktivitas gol semata.

High Press Liverpool Kunci Suplai Bola ke Isak

Iraola menjelaskan bahwa kemenangan atas Ipswich tidak lepas dari perbaikan pressing yang dilakukan anak asuhnya. “Hari ini pressing kami jauh, jauh lebih baik. Kami merebut bola di area yang sangat tinggi, lalu bisa menghubungkan Isak di posisi yang bagus,” katanya. Ia menambahkan bahwa jika Liverpool merebut bola di area yang lebih rendah, upaya untuk menemukan Isak di ruang kosong akan jauh lebih sulit.

Data pertandingan membuktikan efektivitas strategi ini. Liverpool memenangi penguasaan bola di sepertiga akhir lapangan sebanyak tujuh kali, sementara Ipswich hanya dua kali. Dari tujuh momen tersebut, enam di antaranya terjadi pada babak pertama ketika Liverpool mencetak dua gol cepatnya.

Artinya, high press Liverpool bukan sekadar alat untuk bertahan, melainkan juga senjata untuk menyerang dengan cepat. Ketika bola direbut di area lawan, tim langsung berada pada posisi ideal untuk mengirim umpan-umpan berbahaya ke depan. Karena itu pula, peran number nine seperti Isak menjadi lebih optimal tanpa harus turun jauh ke lini tengah untuk menjemput bola. “Jadi, kami butuh upaya yang lebih berkualitas untuk menempatkan nomor sembilan kami dalam situasi seperti yang ia alami hari ini,” pungkas Iraola.

Debut Bradley Barcola dan Jadwal Padat Liverpool

Pada laga yang sama, Liverpool memberikan debut kepada Bradley Barcola yang masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-64. Winger asal Prancis itu baru saja diresmikan pada Senin setelah Liverpool menuntaskan transfer senilai £123 juta dari Paris Saint-Germain. Namun, dalam sisa waktu yang ada, Barcola belum sempat melepaskan tembakan dan hanya tercatat sekali menyentuh bola di area penalti Ipswich.

Iraola mengingatkan bahwa Barcola butuh waktu untuk menyamai ritme permainan tim. “Dia mendapat menit bermain yang bagus, melakukan satu umpan bagus saat serangan balik, dan punya beberapa peluang ketika berlari menghadap kiper, tetapi kami tidak menemukannya,” kata Iraola. “Kami perlu mempelajari pergerakan-pergerakan itu karena ia akan terus menjadi ancaman di belakang pertahanan. Namun, dia terlihat percaya diri saat membawa bola, seperti biasanya.”

Iraola juga mengaku bermain aman karena Barcola belum tampil dalam laga kompetitif sejak Piala Dunia. Meski begitu, debut singkat ini dinilai sebagai langkah awal yang positif bagi proses adaptasinya. Liverpool sendiri akan menghadapi Atletico Madrid di kandang pada laga perdana fase liga Liga Champions Rabu mendatang, sebelum bertemu Fulham di pekan keempat Premier League.

Kemenangan di Portman Road menjadi modal berharga bagi Liverpool setelah start yang kurang mulus. Dua gol cepat Isak membuktikan bahwa high press Liverpool yang konsisten mampu membuka ruang dan menciptakan peluang sejak menit awal. Ditambah debut Barcola, tim kini memiliki lebih banyak opsi menjelang rangkaian laga berat di pentas domestik maupun Eropa.

Bagi Iraola, yang terpenting adalah menjaga standar permainan tetap tinggi, bukan sekadar soal gol, tetapi bagaimana setiap pemain saling membantu dalam berbagai situasi. Jika pola pressing seperti melawan Ipswich bisa dipertahankan, suplai bola kepada Isak dipastikan akan terus berada pada level terbaiknya. Publik Anfield tentu berharap performa ini menjadi awal dari tren positif Liverpool musim ini.