Maresca Minta Efisiensi Serangan Manchester City

Pelatih Manchester City, Enzo Maresca, menantang anak asuhnya untuk meningkatkan efisiensi serangan Manchester City di sepertiga akhir lapangan. Permintaan itu muncul setelah start sempurna City di Premier League terhenti oleh kekalahan dari Aston Villa pada laga akhir pekan.

Kekalahan tersebut membuat Maresca menyoroti ketajaman timnya di depan gawang, bukan hanya soal pertahanan. Sebab, meski mampu mendominasi penguasaan bola dan menciptakan banyak peluang, City tetap pulang tanpa poin dari Villa Park. Padahal modal kemenangan sudah terlihat ketika Erling Haaland menyamakan kedudukan di awal babak kedua.

Kekalahan di Villa Park dan Dua Kesalahan yang Berujung Gol

Manchester City tumbang 2-1 di markas Aston Villa, Villa Park. Kekalahan itu tidak lepas dari dua kesalahan individu di kubu City yang dimanfaatkan dengan baik oleh Nicolas Jackson.

Pada babak pertama, Jackson memanfaatkan kelengahan Marc Guehi. Di paruh kedua, giliran kesalahan Gianluigi Donnarumma yang membuat City kembali tertinggal. Dua momen itu menjadi pembeda dalam pertandingan yang secara statistik justru dikuasai pasukan Maresca.

City sempat menyamakan kedudukan lewat Haaland tepat di awal babak kedua. Namun, meski terus menekan setelahnya, tim tamu tidak pernah benar-benar terlihat mampu membalikkan keadaan untuk kedua kalinya. Kekalahan ini pun menghentikan catatan sempurna City di Premier League musim ini.

Statistik Serangan: Dominan, tetapi Kurang Tajam

Maresca tidak memungkiri bahwa timnya tampil dominan. Catatan pertandingan menunjukkan City melepaskan 15 tembakan berbanding delapan milik Aston Villa. City juga menang jauh dalam perbandingan expected goals (xG), yakni 1,56 berbanding 0,61.

Bagi Maresca, persoalannya bukan pada kemampuan menciptakan peluang, melainkan pada ketepatan penyelesaian akhir dan akurasi umpan terakhir. Ia menegaskan bahwa timnya menghabiskan sebagian besar pertandingan di area pertahanan lawan, termasuk di dalam kotak penalti.

“Kalau Anda melihat berapa banyak waktu yang kami habiskan di kotak penalti mereka, kadang kami perlu lebih akurat dan tepat di sepertiga akhir serta mencetak lebih banyak gol,” kata Maresca. Ia menambahkan bahwa pemainnya harus lebih klinis saat mendapat peluang dan lebih presisi pada umpan terakhir, lalu menjadikan laga itu sebagai pelajaran.

Meski begitu, Maresca tetap memberi apresiasi kepada para pemainnya karena terus bertahan dan berjuang hingga akhir. Ia juga menyebut gol kedua Villa terasa berat karena datang sangat dekat dengan momen penyamaan kedudukan City.

Kebobolan yang Meningkat di Tengah Produktivitas Gol

Persoalan City sebenarnya tidak hanya di lini depan. Setelah kebobolan delapan gol dalam sembilan pertandingan pembuka musim 2026-27 di semua kompetisi, gawang mereka sudah kemasukan sembilan gol dalam empat laga terakhir. Tren ini menjadi latar belakang mengapa kritik terhadap ketajaman serangan terasa menarik.

Sebab, secara keseluruhan catatan menyerang City justru positif. Mereka mencetak 34 gol dalam 13 pertandingan di semua kompetisi, jauh melampaui total xG sebesar 27,12. Artinya, City tampil lebih produktif daripada kualitas peluang yang mereka ciptakan.

Akurasi tembakan mereka pun tergolong baik. Dari 207 percobaan, 81 di antaranya mengarah ke gawang, atau setara 53,29%. Sementara itu, tingkat konversi tembakan City sebesar 16,43% merupakan yang terbaik kedua di antara klub Premier League di semua kompetisi, hanya di bawah Chelsea dengan 16,78%.

Di sisi lain, Haaland sendiri tetap tajam dengan sembilan gol dalam delapan laga Premier League musim ini. Karena itu, permintaan Maresca lebih tepat dibaca sebagai dorongan agar City memaksimalkan momen-momen krusial, bukan penilaian bahwa lini serang mereka sedang bermasalah besar.

Makna Kritik Maresca bagi Persaingan City

Pernyataan Maresca menunjukkan bahwa ia tidak ingin City sekadar tampil mendominasi secara statistik. Dalam pertandingan melawan tim yang bertahan rapat dan mengandalkan serangan balik seperti Aston Villa, penguasaan bola dan jumlah tembakan tidak otomatis berbuah poin.

Karena itu, fokus pada efisiensi di sepertiga akhir menjadi kunci bila City ingin menjaga laju di Premier League. Kualitas umpan terakhir dan ketenangan saat menyelesaikan peluang dinilai lebih menentukan daripada banyaknya peluang yang diciptakan. Pendekatan ini juga relevan ketika City menghadapi lawan yang menurunkan blok pertahanan dalam jumlah besar.

Bagi para pesaing di papan atas, pernyataan tersebut bisa dibaca sebagai sinyal bahwa City menyadari titik lemahnya. Jika masalah penyelesaian akhir dan kesalahan individu bisa ditekan, potensi City untuk kembali meraih hasil maksimal tetap terbuka. Sebaliknya, jika kebobolan terus meningkat, dominasi penguasaan bola tidak akan berarti banyak.

Ujian Berikutnya: Brighton Dua Kali dalam Sepekan

City tidak punya banyak waktu untuk meratapi kekalahan. Jadwal berikutnya sudah menanti dalam bentuk laga Piala EFL pada Rabu, ketika mereka menjamu Brighton dengan tiket perempat final sebagai taruhannya.

Menariknya, pertemuan yang sama akan tersaji lagi di Premier League pada Sabtu. Dua laga melawan tim yang sama dalam rentang sepekan memberi City kesempatan cepat untuk membuktikan apakah catatan efisiensi serangan mereka bisa diperbaiki.

Dengan komposisi jadwal seperti itu, rotasi pemain dan ketajaman di depan gawang akan menjadi dua hal yang paling disorot. Hasil di dua pertandingan tersebut bisa menjadi indikator apakah kritik Maresca benar-benar diikuti dengan perbaikan di lapangan.

Kesimpulan

Kekalahan 2-1 dari Aston Villa menghentikan start sempurna Manchester City di Premier League, sekaligus memunculkan sorotan Maresca terhadap efisiensi serangan timnya. Dua kesalahan individu yang berujung gol Nicolas Jackson menjadi pembeda, sementara City unggul jauh dalam jumlah tembakan dan nilai xG.

Menariknya, statistik keseluruhan musim ini justru menunjukkan City produktif dan cukup akurat dalam menembak. Karena itu, tantangan Maresca sesungguhnya adalah menjaga ketenangan dan ketepatan pada momen-momen menentukan, bukan membangun ulang lini serang dari nol. Ujian melawan Brighton dua kali dalam sepekan akan menjadi pembuktian pertama.