Hansi Flick mengaku lega melihat Lamine Yamal kembali menemukan kepercayaan dirinya lewat dwigol dalam kemenangan 6-1 Barcelona atas Alaves. Kebangkitan Lamine Yamal itu terasa penting karena hanya enam hari sebelumnya ia tampil tumpul ketika Barcelona tumbang 2-1 dari Real Madrid pada Clasico pertama musim ini.
Dwigol tersebut bukan satu-satunya sorotan dalam laga di Camp Nou. Raphinha juga mencetak dua gol, sementara Fermin Lopez dan Anthony Gordon ikut mencatatkan nama di papan skor. Bagi Flick, penampilan Yamal menjadi jawaban atas kekhawatiran soal ketajaman lini serangnya, sekaligus menegaskan bahwa Barcelona masih punya cukup amunisi untuk bersaing di LaLiga maupun Liga Champions.
Dwigol Yamal Mewarnai Pesta Gol Barcelona
Yamal bergabung bersama Raphinha sebagai pemain yang mencetak dua gol dalam laga ini. Barcelona benar-benar menguasai pertandingan dan membombardir pertahanan Alaves sejak babak pertama, sehingga hasil 6-1 terasa sebagai cerminan penuh dari dominasi mereka sepanjang 90 menit.
Menariknya, sebelum mencetak dua golnya, Yamal lebih dulu menyumbang assist untuk gol kedua Barcelona yang dicetak Fermin Lopez. Catatan itu menandai kelima kalinya ia terlibat dalam tiga gol dalam satu pertandingan bersama klub, dan seluruhnya terjadi sepanjang 2026, dengan tiga di antaranya pada musim ini. Artinya, kontribusi Yamal bukan sekadar soal gol, melainkan juga peran sebagai kreator bagi rekan-rekannya.
Kemenangan ini juga menghadirkan angka menarik bagi Flick. Ini menjadi kedelapan kalinya Barcelona mencetak empat gol di babak pertama sebuah pertandingan di semua kompetisi sejak ia menangani klub. Jumlah tersebut tiga lebih banyak dibandingkan tim mana pun dari lima liga top Eropa sejak 2024, sebuah bukti bahwa tim asuhannya punya pola serang yang sangat agresif sejak menit awal.
Bayang-bayang Clasico dan Peluang yang Terbuang
Kegembiraan Flick tak lepas dari konteks pertandingan sebelumnya. Enam hari sebelum menghadapi Alaves, Barcelona menyerah 2-1 dari rival abadinya, Real Madrid, dan Yamal menjadi salah satu pemain yang paling disorot. Pada Clasico pertama musim itu, ia membuang peluang satu lawan satu yang seharusnya mudah diselesaikan, dan tidak satu pun dari lima tembakannya mengarah ke gawang.
Bagi seorang winger yang sudah mengangkat trofi Piala Dunia, penampilan seperti itu tentu menimbulkan tekanan tersendiri. Sorotan publik terhadap pemain muda selalu lebih besar, terutama ketika ia dianggap sebagai salah satu tumpuan utama tim di laga sebesar Clasico. Karena itu, dwigol ke gawang Alaves terasa seperti pelepasan beban sekaligus pembuktian bahwa performa buruk di laga besar tidak lantas menghapus kualitasnya.
Flick dan Pentingnya Mengatur Menit Bermain
Meski senang dengan kembalinya ketajaman Yamal, Flick tetap menegaskan perlunya mengatur beban bermain pemainnya. Ia menarik Yamal keluar pada menit ke-74, keputusan yang menurutnya lebih mudah dilakukan karena sang pemain sudah menyumbang dua gol. “Ketika Anda mencetak dua gol, lebih mudah untuk ditarik keluar,” kata Flick kepada wartawan setelah pertandingan.
Flick juga mengungkapkan bahwa ia sempat berbicara dengan Yamal saat turun minum. Menurutnya, hal terpenting adalah sang pemain kembali percaya diri dalam situasi satu lawan satu, terutama karena ia mendapat lebih banyak waktu dan menit di babak kedua. Namun ia menambahkan bahwa kadang-kadang Yamal memang perlu bermain dengan menit yang lebih sedikit.
Pernyataan itu menunjukkan sisi manajemen yang tak kalah penting dari taktik: menjaga kondisi fisik pemain muda agar tetap prima sepanjang musim. Dengan jadwal padat di domestik dan Eropa, rotasi menjadi kunci untuk menghindari kelelahan maupun cedera. Flick seolah ingin memastikan bahwa kembalinya kepercayaan diri Yamal tidak dibayar dengan risiko jangka panjang.
23 Kontribusi Gol dan Persaingan dengan Raphinha
Statistik Yamal musim ini memang menempatkannya di kelas tersendiri. Ia telah terlibat dalam 23 gol di semua kompetisi, dengan rincian 12 gol dan 11 assist, jumlah tertinggi di antara pemain mana pun dari lima liga top Eropa. Angka itu menunjukkan bahwa meski sempat meredup di Clasico, konsistensinya sepanjang musim tidak perlu diragukan.
Yang menarik, pesaing terdekatnya justru datang dari rekan setim sendiri. Raphinha menempati posisi kedua dengan 20 kontribusi gol langsung, terdiri dari 17 gol dan tiga assist, setelah ikut mencetak dua gol ke gawang Alaves. Persaingan sehat di dalam skuad seperti ini menguntungkan Barcelona karena membuat lini serang mereka sulit diprediksi lawan.
Dampaknya bagi Barcelona cukup jelas: dua pemain sayap dengan produktivitas setinggi itu memberi Flick banyak opsi untuk membongkar pertahanan lawan. Ketika salah satu pemain sedang tidak tajam, ada sosok lain yang bisa mengambil tanggung jawab mencetak gol. Inilah salah satu alasan mengapa Barcelona mampu mencetak banyak gol dalam waktu singkat di sejumlah pertandingan musim ini.
Kemenangan ke-100 Flick dan Rekor yang Dikejar
Kemenangan atas Alaves juga menandai tonggak penting bagi Flick secara pribadi. Ia kini telah mengantongi 100 kemenangan bersama Barcelona hanya dalam 131 pertandingan di semua kompetisi, capaian yang menempatkannya di antara pelatih tersukses dalam sejarah klub. Hanya Luis Enrique yang mencapai angka tersebut lebih cepat, yakni dalam 126 laga, sementara Pep Guardiola membutuhkan delapan pertandingan lebih banyak daripada Flick.
Saat diminta menyebut kemenangan favoritnya selama menangani Barcelona, Flick tidak bisa melupakan Clasico pertamanya. Pada Oktober 2024, timnya menghancurkan Real Madrid 4-0 di Stadion Santiago Bernabeu, sebuah hasil yang tentu sulit dilupakan siapa pun yang terlibat. “Sangat menyenangkan bisa mencapai angka itu,” ujarnya. “Tapi dari semua kemenangan… mungkin kemenangan di Clasico pertama!”
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa di balik koleksi angka dan rekor, momen emosional tetap punya tempat tersendiri bagi seorang pelatih. Bagi Flick, kemenangan di kandang rival terbesar tampaknya lebih bermakna dibanding deretan kemenangan rutin lainnya.
Ujian Berat Menanti: Atletico Madrid dan Aston Villa
Setelah laga ini, Barcelona kembali ke puncak klasemen LaLiga dengan keunggulan dua poin atas Atletico Madrid. Menariknya, lawan berikutnya di liga justru Atletico asuhan Diego Simeone, yang akan dijamu Barcelona pada 8 November. Pertandingan itu berpotensi menjadi penentu arah persaingan di papan atas klasemen.
Sebelum menghadapi Atletico, Barcelona lebih dulu menjalani laga Liga Champions melawan Aston Villa di Camp Nou pada matchday keempat. Dua pertandingan beruntun dengan intensitas berbeda ini menjadi ujian bagi kemampuan Flick merotasi skuad, termasuk mengatur menit bermain Yamal agar tetap segar di laga-laga besar.
Kombinasi antara performa individu yang kembali menanjak dan rekor kolektif yang terus bertambah membuat Barcelona berada di posisi yang menguntungkan. Namun, dua laga berikutnya akan menunjukkan apakah kebangkitan Yamal dan rekor 100 kemenangan Flick benar-benar menjadi pijakan menuju konsistensi, atau hanya momen gemilang sesaat.
Kesimpulan
Kembalinya Lamine Yamal ke jalur ketajaman menjadi kabar yang paling melegakan bagi Flick setelah kekalahan di Clasico. Dwigol ke gawang Alaves, ditambah assist untuk Fermin Lopez, menegaskan bahwa pemain muda itu masih menjadi salah satu motor serangan paling produktif Barcelona dengan total 23 kontribusi gol musim ini. Di sisi lain, Flick tetap berhati-hati soal menit bermain dan memilih menariknya pada menit ke-74.
Kemenangan 6-1 itu sendiri melengkapi catatan istimewa berupa 100 kemenangan Flick dalam 131 laga, sebuah capaian yang hanya kalah cepat dari Luis Enrique. Dengan puncak klasemen LaLiga kembali dipegang dan dua laga berat menanti melawan Aston Villa serta Atletico Madrid, Barcelona punya kesempatan untuk membuktikan bahwa performa apik ini bukan sekadar gejolak sesaat.
