Benin Siap Jadi Saksi Laga Terakhir Messi di Argentina

Benin akan menjadi lawan Argentina di Estadio Monumental, Buenos Aires, dalam pertandingan yang menandai laga terakhir Lionel Messi bersama tim nasional Argentina. Duel persahabatan itu dijadwalkan Selasa waktu setempat atau Rabu 00.00 dini hari waktu Inggris (BST). Bagi sebuah negara kecil di Afrika Barat yang selama ini jarang disorot, kesempatan tampil di panggung sebesar ini jelas bukan pertandingan biasa.

Argentina bahkan menyiapkan seragam edisi khusus untuk menandai momen tersebut, dan jersey yang dikenakan Messi berpotensi menjadi salah satu yang termahal dalam sejarah. Sementara itu, skuad Benin dihuni pemain-pemain yang berkarier di Finlandia, kasta kedua Liga Swiss, hingga Liga Primer Afrika Selatan. Jarak kualitas kedua tim terlihat jauh, namun justru itulah yang membuat laga ini terasa istimewa bagi sepak bola Benin.

Benin dan Panggung Besar yang Datang Tanpa Diduga

Benin berada tepat di sebelah Nigeria, dan sepak bola mereka nyaris selalu dibicarakan sebagai pelengkap kejayaan sang tetangga yang jauh lebih kuat. Nigeria punya sejarah panjang di Piala Dunia serta deretan pemain yang berkarier di klub-klub besar Eropa, sedangkan Benin hanya sesekali muncul sebagai peserta turnamen besar Afrika. Karena itu, jadwal melawan Argentina di Buenos Aires terasa seperti panggung yang datang tanpa diduga.

Pertandingan ini sekaligus menjadi titik akhir perjalanan Messi di level internasional setelah ia memutuskan pensiun dari timnas Argentina. Argentina disebut telah merancang perlengkapan khusus untuk mengiringi perpisahan tersebut. Artinya, laga yang secara status hanya berlabel persahabatan ini menyimpan bobot historis yang tidak kecil, baik bagi tuan rumah maupun bagi tim tamu.

Di sisi lain, komposisi skuad Benin menegaskan bahwa mereka datang sebagai pihak yang jauh dari favorit. Sebagian pemainnya mencari nafkah di kompetisi yang tidak selalu masuk liputan media global. Namun mereka akan berhadapan langsung dengan kapten yang mengantar Argentina menjuarai Piala Dunia, sebuah pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan apa pun.

Steve Mounie, Kapten yang Rela Membeli Tiket Sendiri

Salah satu nama paling dikenal di skuad Benin adalah kapten mereka, Steve Mounie. Penyerang ini kini memperkuat FC Augsburg di Bundesliga Jerman, dan namanya juga melekat di ingatan para pendukung Huddersfield Town karena pernah membela klub tersebut pada 2017 hingga 2020. Ia sudah lebih dari satu dekade menjadi pemain reguler timnas, tetapi mengaku belum pernah sekalipun bermain untuk Benin di luar Afrika.

Mounie menuturkan bahwa ia semula tidak tahu laga melawan Argentina akan menjadi pertandingan terakhir Messi. Baginya, kabar itu seperti pelengkap yang membuat momen tersebut semakin bernilai, baik untuk Benin maupun untuk dunia sepak bola secara umum. Menurutnya, pertemuan dengan salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah menambah bobot tersendiri bagi sebuah negara yang jarang mendapat perhatian sebesar ini.

Sayangnya, cedera membuat Mounie tidak bisa turun ke lapangan. Meski demikian, ia memilih tetap bergabung dengan tim alih-alih beristirahat di rumah, karena merasa tidak mungkin melewatkan momen sebesar ini. Ia bahkan mengaku membeli tiket penerbangannya sendiri, dan menegaskan bahwa dirinya akan menerima posisi apa pun, termasuk duduk di tribune, asalkan bisa menyaksikan pertandingan langsung dari stadion.

Cara Benin Bermain di Mata Kaptennya

Mounie menggambarkan Benin sebagai tim yang sangat disiplin dengan banyak talenta muda bertalenta teknis bagus. Menurutnya, timnya selalu berani bermain ke depan dan menerapkan sepak bola pressing, tetapi ketika cara itu tidak berjalan, mereka bertahan bersama-sama dan bertarung sebagai satu kesatuan. Ia menyebut skuadnya seperti sebuah keluarga, dan melihat kemiripan dengan Argentina yang juga terasa seperti keluarga dengan Messi sebagai figur bapaknya.

Peluang Menaikkan Reputasi di Laga Terakhir Messi

Bagi Mounie, hasil akhir pertandingan persahabatan ini tidak terlalu menentukan. Yang jauh lebih penting, menurutnya, adalah kesempatan bagi para pemain yang dipilih untuk menaikkan reputasi mereka sendiri sekaligus nama sepak bola Benin. Kesempatan seperti ini jarang datang, terutama bagi pemain dari negara yang jarang tampil di panggung internasional sebesar Estadio Monumental.

Argentina sendiri datang dengan modal meyakinkan setelah mengalahkan sesama tim Afrika Barat, Burkina Faso, dengan skor 7-0. Banyak pihak memperkirakan skor serupa terulang pada laga ini. Situasi itu membuat Messi kemungkinan besar tidak bermain penuh 90 menit, mengingat usia dan posisinya dalam pertandingan yang tidak kompetitif.

Skenario yang paling mungkin terjadi adalah Messi ditarik keluar pada babak kedua setelah Argentina unggul beberapa gol. Dengan stadion yang disebut sudah terjual habis, pergantian itu akan berubah menjadi momen perpisahan bagi penonton tuan rumah untuk melepas bintang olahraga terbesar negara mereka. Bagi para pemain Benin, momen tersebut sekaligus menjadi pengalaman langka bermain di hadapan atmosfer sebesar itu.

Jersey Messi dan Perburuan Setelah Peluit Akhir

Setelah pertandingan berakhir, perhatian diperkirakan akan beralih ke satu benda: jersey yang dikenakan Messi. Doug Bierton, pendiri Classic Football Shirts, menilai mendapatkan jersey yang dipakai Messi dalam pertandingan sangatlah sulit karena semua orang tahu nilainya. Ia menyebut setiap pemain di lapangan akan berusaha menukar jersey dengan Messi, dan mencatat bahwa ini pertama kalinya seorang legenda mengakhiri karier dengan seragam edisi khusus.

Bierton, yang koleksi pribadinya berisi ribuan jersey ikonik, menempatkan jersey terakhir Messi itu sederajat dengan beberapa artefak sepak bola paling berharga. Ia menyandingkannya dengan sejumlah memorabilia kelas atas:

  • Jersey Diego Maradona saat mencetak gol “Hand of God” melawan Inggris di Piala Dunia 1986, yang terjual seharga 7,1 juta poundsterling dalam lelang Mei 2022.
  • Jersey Zinedine Zidane dari laga terakhirnya bersama Prancis, yang berakhir dengan kartu merah setelah ia menanduk Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006.

Menariknya, jersey Messi kali ini dikenakan dalam pertandingan persahabatan, bukan laga resmi bertaruh tinggi. Kendati demikian, nilainya tetap dianggap setara dengan memorabilia bersejarah tersebut. Hal itu dinilai sebagai bukti pengakuan bahwa Messi adalah pesepak bola terhebat yang pernah ada.

Karena itu, Bierton menduga bukan hanya pemain Benin yang akan mengejar jersey tersebut. Rekan setim Messi di Argentina pun berpeluang ikut mengantre, terutama Rodrigo De Paul yang dikenal dekat dengannya, termasuk kemungkinan jersey itu berakhir sebagai hadiah perpisahan. Bahkan ia menyebut staf perlengkapan tim pun bisa jadi ikut mengincarnya, dan mengaku akan menonton pertandingan hanya untuk melihat siapa yang akhirnya bertukar jersey dengan Messi.

Apa Artinya bagi Sepak Bola Benin dan Dunia

Laga ini memperlihatkan pola yang makin sering muncul dalam sepak bola modern: pertandingan persahabatan tidak lagi sekadar uji coba taktis, tetapi juga panggung ekonomi dan simbolik. Kehadiran Messi mengubah sebuah laga biasa menjadi peristiwa yang punya nilai jual tinggi, mulai dari penjualan tiket, seragam edisi khusus, hingga nilai jual memorabilia di pasar kolektor. Bagi negara kecil seperti Benin, berada di pusaran peristiwa semacam itu adalah promosi yang sulit didapat lewat jalur lain.

Di sisi lain, momen ini juga menandai berakhirnya satu babak panjang dalam sejarah sepak bola Argentina. Messi memutuskan pensiun dari timnas setelah merasa tidak lagi punya banyak hal untuk diberikan. Bagi para pemain Benin, makna pertemuan ini justru sebaliknya: sebuah titik awal untuk menunjukkan bahwa mereka bisa bersaing dan diperhitungkan, setidaknya di depan mata dunia yang sedang menatap Messi.

Pada akhirnya, laga di Estadio Monumental akan dikenang karena satu nama, tetapi Benin punya alasan kuat untuk mengingatnya sebagai momen kebanggaan tersendiri. Mereka datang sebagai tim yang jauh dari sorotan, membawa pemain yang bahkan rela membeli tiket sendiri demi bisa hadir, dan pulang dengan cerita yang akan dibawa seumur karier. Ketika peluit akhir berbunyi dan perburuan jersey dimulai, sejarah kecil sepak bola Benin sudah tercatat berdampingan dengan perpisahan seorang legenda.